Bapak/Ibu Keuarga Besar IKKW yang dirahmati Allah SWT, ada banyak persoalan yang menghadang di depan kita. Entah itu masalah pribadi, keluarga ataupun yang lebih luas dari itu. Sebanding dengan banyaknya masalah, banyak pula cara yang dapat kita lakukan untuk menyelesaikannya. Kita bisa mengandalkan kecerdasan akal, kemampuan fisik, harta kekayaan, relasi atau apapun. Namun dari semua itu, tidak ada yang paling ampuh selain dari pertolongan Allah SWT.
Mengapa pertolongan Allah ? Karena tidak ada satupun masalah yang terjadi, kecuali atas izin Allah SWT. Semuanya ada dalam genggaman Allah. Bila demikian, alangkah mudahnya bagi Allah untuk membuka jalan kemudahan bagi siapapun yang ditimpa masalah.
Karena itu, masalah terbesar dalam hidup adalah saat kita tidak mendapatkan pertolongan Allah. Seberat apapun persoalan, akan menjadi ringan bila ditolong Allah SWT. Pertanyaannya adalah bagaimana agar kita layak ditolong Allah ? jawabannya ada dalam QS Ath Thalaaq [65] di akhir ayat 2 – 3 : “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya, dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”.
Jadi, kunci pembuka pertolongan Allah ada dalam ketakwaan kita. Semakin takwa kita, semakin terbuka lebar pintu-pintu pertolongan Allah. Sebaliknya, semakin ingkar kita, semakin tertutup rapat pintu-pintu pertolongan Allah. Na’udzubillah. Imam Ibnu Atha’ilah menegaskan pesan takwa ini. “Jangan menuntut Allah karena terlambatnya permintaan yang telah engkau panjatkan kepada-Nya. Namun, hendaknya angkau koreksi dirimu, tuntut dirimu agar tidak terlambat melaksanakan kewajiban-kewajiban terhadap Tuhanmu”.
Saudaraku, ada banyak kewajiban yang harus kita tunaikan kepada Allah. Di antara yang banyak tersebut ada beberapa amalan dasar, sekaligus kunci pembuka datangnya pertolongan Allah. Saat kita mampu mengamalkannya dengan istikamah, Insya Allah kebaikan-kebaikan lainnya akan terbuka.
1. Mencintai masjid. Masjid adalah rumah Allah yang ada di bumi. Tidak ada tempat yang paling dicintai Allah di bumi selain masjid. Pertolongan Allah akan datang kepada siapapun yang cinta dan gemar memakmurkan masjid. Karena itu, syarat pertama agar ditolong Allah adalah mencintai masjid.
2 Tahajud. Sepertiga malam terakhir adalah waktu yang sangat dicintai Allah. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa pada waktu tersebut, Allah SWT turun ke bumi dan mengabulkan setiap doa yang dipanjatkan hamba-hamba-Nya. Tidak ada satupun shalat sunnat yang begitu diperhatikan Rasulullah SAW kecuali shalat tahajud.
3. Sedekah. Amalan ini sungguh luar biasa. Dengan bersedekah, rezeki akan tambah melimpah dan berkah, urusan menjadi mudah, kita pun akan terhindar dari musibah. Jaminan dari Allah demikian pasti kepada ahli sedekah. Maka, jangan sia-siakan kesempatan bersedekah. Pastikan tiada hari tanpa sedekah. Awali hari-hari kita dengan bersedekah.
4. Bantu orang lain. Sesungguhnya Allah akan menolong orang-orang yang gemar menolong saudaranya. Mudahkan pula urusan orang lain, niscaya Allah akan memudahkan urusan kita. Pokoknya, tiada hari tanpa menolong orang lain. Dan, jangan pilih-pilih dalam menolong.
5. Kelima, banyak bershalawat kepada Rasulullah SAW. Rasul adalah manusia yang paling dicintai Allah. Karena itu, cinta Allah akan kita dapatkan saat kita mencintai hamba yang paling dicintainya. Bila Allah sudah cinta, pertolongannya akan terbuka bagi kita. Wallahu a’lam.
Minggu, 10 Oktober 2010
Selasa, 10 Agustus 2010
AGAR RAMADHAN JADI BERKAH
“Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban,
dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan”
Bapak/Ibu Keluarga Besar IKKW yang saya hormati!
Tak terasa, tinggal beberapa hari ke depan kita akan memasuki bulan Ramadhan 1427 H. Sangat penting sekali bagi kita semua untuk mengetahui apa saja yang perlu dipersiapkan untuk menyambut bulan Ramadhan dan bisa menjalankan ibadah di dalamnya dengan baik.
Saudaraku yang dirahmati Allah, ada banyak keistimewaan Ramadhan yang tidak diberikan di bulan-bulan lain. Di antara keistimewaannya adalah :
1. Pintu surga dibuka, sedangkan pintu neraka ditutup.
Disabdakan, “Jika telah datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup”. (HR. Bukhari). Hadis ini bisa dipahami apa adanya, yakni pintu surga memang betul-betul dibuka dan pintu neraka ditutup. Atau bisa dihapami bahwa peluang masuk surga begitu besar, karena pada bulan ini, Allah SWT mensyariatkan banyak ibadah yang dapat membawa seseorang ke surga. Sebaliknya, peluang masuk neraka kecil, karena peluang bermaksiat kecil.
2. Setan dibelenggu.
“…dan setan-setan pun dibelenggu” (HR. Bukhari). Kalau setan dibelenggu, namun tidak demikian dengan hawa nafsu. Sehingga, potensi melakukan dosa tetap ada, walaupun tidak sebesar di bulan-bulan lain.
3. Meningkatnya derajat ibadah.
Di dalam bulan ini, Allah SWT melipatgandakan derajat ibadah. Satu ibadah wajib dilipatgandakan menjadi tujuh puluh kali ibadah wajib di bulan lain, dan ibadah sunnah dinilai ibadah wajib.
4. Dosa-dosa sebelumnya dihapus.
Segala macam ibadah yang dilakukan di bulan Ramadhan menggugurkan dosa. Seperti shalat dan puasa. Mengenai shalat Rasulullah SAW bersabda, “shalat lima waktu dari Jum’at ke Jum’at berikutnya, dari Ramadhan hingga Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa-dosa diantaranya” (HR. Muslim). Tentang puasa, Rasul bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan mengharap Ridho Allah, akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu”. (Muttafaq ‘Alaih).
Agar Ramadhan bermakna, kita harus bersiap menyambut kedatangannya. Ada beberpa persiapan yang bisa dilakukan :
1. Memupuk kerinduan dan kecintaan terhadap Ramadhan. Salah satunya dengan berdoa. Rasul mencontohkan sebuah doa menjelang Ramadhan, Allahumma baarik lanaa fii rajaba wa sya’baan, wa ballighnaa Ramadhaan”. “Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan”.
2. Mempersiapkan diri dengan baik. Hati, akal dan fisik harus dipersiapkan. Hati dipersiapkan dengan memperbanyak ibadah, seperti shalat sunnah, saum sunnah, dzikir dan sebagainya. Akal dipersiapkan dengan mendalami berbagai ilmu yang terkait dengan Ramadhan. Ilmu dan keikhlasan menjadi factor penentu diterima tidaknya sebuah amal. Fisik juga dipersiapkan dengan menjaga Kesehatan, kebersihan, olahraga dan lain-lain.
3. Merencanakan peningkatan prestasi ibadah dibanding Ramadhan yang lalu. Buat perencanaan global dan rinci. Tentukan target tiap-tiap ibadah. Selain untuk diri sendiri, buat pula perencanaan aktivitas sosial yang positif seperti memberi makanan pembuka bagi orang miskin, buka bersama dengan anak yatim, mengadakan pengajian, memperbaiki hubungan keluarga dan lainnya.
Dengan menyiapkan segala sesuatu sebelum kedatangannya, mudah-mudahan kita bisa mencicipi hidangan Allah pada bulan Ramadhan sekaligus meraih keberkahannya. Sebab kesuksesan sebuah perbuatan ditentukan oleh jelasnya tujuan dan matangnya persiapan. Wallahu a’lam.
dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan”
Bapak/Ibu Keluarga Besar IKKW yang saya hormati!
Tak terasa, tinggal beberapa hari ke depan kita akan memasuki bulan Ramadhan 1427 H. Sangat penting sekali bagi kita semua untuk mengetahui apa saja yang perlu dipersiapkan untuk menyambut bulan Ramadhan dan bisa menjalankan ibadah di dalamnya dengan baik.
Saudaraku yang dirahmati Allah, ada banyak keistimewaan Ramadhan yang tidak diberikan di bulan-bulan lain. Di antara keistimewaannya adalah :
1. Pintu surga dibuka, sedangkan pintu neraka ditutup.
Disabdakan, “Jika telah datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup”. (HR. Bukhari). Hadis ini bisa dipahami apa adanya, yakni pintu surga memang betul-betul dibuka dan pintu neraka ditutup. Atau bisa dihapami bahwa peluang masuk surga begitu besar, karena pada bulan ini, Allah SWT mensyariatkan banyak ibadah yang dapat membawa seseorang ke surga. Sebaliknya, peluang masuk neraka kecil, karena peluang bermaksiat kecil.
2. Setan dibelenggu.
“…dan setan-setan pun dibelenggu” (HR. Bukhari). Kalau setan dibelenggu, namun tidak demikian dengan hawa nafsu. Sehingga, potensi melakukan dosa tetap ada, walaupun tidak sebesar di bulan-bulan lain.
3. Meningkatnya derajat ibadah.
Di dalam bulan ini, Allah SWT melipatgandakan derajat ibadah. Satu ibadah wajib dilipatgandakan menjadi tujuh puluh kali ibadah wajib di bulan lain, dan ibadah sunnah dinilai ibadah wajib.
4. Dosa-dosa sebelumnya dihapus.
Segala macam ibadah yang dilakukan di bulan Ramadhan menggugurkan dosa. Seperti shalat dan puasa. Mengenai shalat Rasulullah SAW bersabda, “shalat lima waktu dari Jum’at ke Jum’at berikutnya, dari Ramadhan hingga Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa-dosa diantaranya” (HR. Muslim). Tentang puasa, Rasul bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan mengharap Ridho Allah, akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu”. (Muttafaq ‘Alaih).
Agar Ramadhan bermakna, kita harus bersiap menyambut kedatangannya. Ada beberpa persiapan yang bisa dilakukan :
1. Memupuk kerinduan dan kecintaan terhadap Ramadhan. Salah satunya dengan berdoa. Rasul mencontohkan sebuah doa menjelang Ramadhan, Allahumma baarik lanaa fii rajaba wa sya’baan, wa ballighnaa Ramadhaan”. “Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan”.
2. Mempersiapkan diri dengan baik. Hati, akal dan fisik harus dipersiapkan. Hati dipersiapkan dengan memperbanyak ibadah, seperti shalat sunnah, saum sunnah, dzikir dan sebagainya. Akal dipersiapkan dengan mendalami berbagai ilmu yang terkait dengan Ramadhan. Ilmu dan keikhlasan menjadi factor penentu diterima tidaknya sebuah amal. Fisik juga dipersiapkan dengan menjaga Kesehatan, kebersihan, olahraga dan lain-lain.
3. Merencanakan peningkatan prestasi ibadah dibanding Ramadhan yang lalu. Buat perencanaan global dan rinci. Tentukan target tiap-tiap ibadah. Selain untuk diri sendiri, buat pula perencanaan aktivitas sosial yang positif seperti memberi makanan pembuka bagi orang miskin, buka bersama dengan anak yatim, mengadakan pengajian, memperbaiki hubungan keluarga dan lainnya.
Dengan menyiapkan segala sesuatu sebelum kedatangannya, mudah-mudahan kita bisa mencicipi hidangan Allah pada bulan Ramadhan sekaligus meraih keberkahannya. Sebab kesuksesan sebuah perbuatan ditentukan oleh jelasnya tujuan dan matangnya persiapan. Wallahu a’lam.
Jumat, 16 Juli 2010
LAKUKAN APA YANG KITA BISA
Ada begitu banyak tanggung jawab, tetapi terlalu sedikit yang mau mengembannya. Ada bertumpuk-tumpuk masalah, tapi tak banyak yang mau menjadi solusinya. Ada sangat banyak keruwetan, tetapi yang mampu mengurainya sangat terbatas.
Di tengah berbagai suasana buntu, terlalu sedikit orang yang bisa menjalani prinsip, “lakukan saja apa yang kita bisa”. Terlalu sedikit orang yang merdeka dan punya vitalitas, yang selalu bergairah untuk melakukan.
Beberapa rumpun masalah itu ada disekitar kita. Mungkin juga mengiringi hari-hari kita, atau menyesaki pikiran dan perasaan kita. Sebagiannya bersifat pribadi, sebagian yang lain bersifat kolektif. Uraian berikut adalah tiga peta utamanya:
Pertama, Memperbaiki Kualitas Keluarga
Keluarga adalah rumah jiwa kita. Kita boleh pergi entah kemana, tapi fitrah kita diciptakan untuk punya tempat kembali. Tempat menambatkan hati. Kesanalah, ke keluarga kita, bersama orang tua kita, atau istri kita, atau suami kita, juga anak-anak kita, hati kita selalu tertambat. Itu adalah fitrah yang tidak bisa kita ingkari.
Al-Qur’an menggambarkan tentang empat fungsi utama keluarga: Fungsi rekreasi, fungsi regenerasi, fungsi investasi dan fungsi kepemimpinan. Fungsi rekreasi ada pada cinta kasih dan rasa tentram yang ditumbuhkan Allah pada pasangan suami istri. “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”. (QS. Ar-Ruum: 21).
Fungsi regenerasi ada pada keberadaan anak-anak sebagai penerus keyakinan. Sebagaimana wasiat Ibrahim kepada anak-anaknya : “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memillih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.”
Fungsi investasi, terletak pada peranan anak yang merupakan satu dari tiga hal yang masih terus mengalirkan manfaatnya ketika orang sudah mati. Yaitu shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakan orang tua. Bahkan, menurut Imam Suyuthi, segala amal baik yang dilakukan anak, maka orang tuanya akan mendapat tembusan pahalanya, meskipun seandainya anak itu tidak mendo’akannya. Sebab orang tua merupakan perantara atas keberadaan mereka.
Fungsi kepemimpinan. Kaum lelaki sebagai pemimpin rumah tangga, maupun perempuan sebagai penanggung jawab property suami dan anak-anaknya. “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian laki-laki atas sebahagian perempuan dan karena laki-laki telah menafkahkan sebagian dari harta mereka” (QS. An-Nisa : 34).
Keempat fungsi di atas terangkum dalam do’a penuh makna : “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan : 74).
Sekarang, sejenak mari mengingat-ingat kembali. Apakah keempat fungsi itu ada di dalam rumah tangga kita? Adakah keempat fungsi itu tumbuh dengan baik di dalam keluarga kita? Sejujurnya, kini banyak keluarga yang letih. Jangankan untuk membangun fungsi kepemimpinan atau regenerasi. Kadang, fungsi rekreasi pun sudah tidak lagi bisa dijumpai.
Mungkin ada dari kita yang harus membenahi keluarganya dari sisi fungsi rekreasi. Salah satu bentuknya, sang suami harus punya penghasilan memadai. Sebab, nafkah merupakan representasi cinta dan kasih sayang secara lahiriyah. Untuk memiliki rumah perlu biaya. Untuk memiliki pakaian yang pantas perlu biaya. Untuk mendidik anak-anak perlu biaya. Alangkah banyak keluarga yang harus kita benahi. Alangkah banyak rumah tangga yang harus memperbaiki diri. Di rumah-rumah yang mulai pengap dan tidak ada lagi keharmonisan, kita harus belajar tentang bagaimana menjadi manusia merdeka. Kita harus memulai apa yang bisa kita lakukan. Di peta ini kita harus menggambar kembali. Di layar ini kita harus bercermin kembali. Masalahnya mungkin sangat banyak. Tapi solusi cepatnya adalah, lakukan saja apa yang kita bisa.
Bila tak ada kedamaian di rumah, maka tak ada lagi kedamaian yang sesungguhnya.
Kedua, Membenahi Masyarakat dan Negara
Seperti apa masyarakat tempat kita berada, akan mempengaruhi keadaan kita, baik atau buruknya, mudah atau sulitnya. Seperti apa kondisi negara tempat kita menjadi warganya, akan sangat berdampak pada warna hidup kita. Karenanya, bersikap masa bodoh atas keterpurukan masyarakat atau bangsa, dengan alasan apapun, sebenarnya berarti bersikap masa bodoh dengan nasib diri sendiri.
Perbaikan sebuah bangsa punya dua jalur utama. Jalur sosial kultural dan jalur politik kekuasaan. Keduanya saling terkait dan saling melengkapi. Di dua jalur utama itu kita layak bertanya, apa yang telah kita lakukan? Kita bisa menggerutu, tapi inti bangsa ini pada dasarnya adalah kita-kita juga. Di jalur sosial kultural maupun di ranah politik kekuasaan, seharusnya kita berada di salah satu dari keduanya atau malah di dua-duanya.
Jadi, lakukan saja apa yang kita bisa. Di masyarakat kita, di lingkungan kita, lingkungan tempat tinggal ataupun lingkungan tempat kerja, ada banyak hal yang bisa kita lakukan. Pembenahan bisa kita mulai dari lingkungan otoritas yang kita punya, sekecil apapun otoritas itu. Terlebih bila kita ditakdirkan punya otoritas besar.
Ketiga, Memenuhi Komitmen Pribadi
Di wilayah pribadi ini, tantangan terberatnya justru karena kita bisa memulai atau tidak memulai. Karena kita bisa memillih untuk mau atau tidak mau. Komitmen diri kita sangat banyak, bentuknya adalah harapan dan cita-cita. Seperti keinginan kita untuk sukses sebagai pendidik, atau sebagai pengusaha, sebagai pakar di bidang tertentu, atau sebagai apa saja.
Memenuhi komitmen pribadi memerlukan banyak sekali ilmu. Tapi mesin utamanya tetaplah kemauan, dan tombol start-nya adalah prinsip “mulai saja apa yang kita bisa”. Memenuhi komitmen diri tidaklah ringan. Ilmu bisa dipelajari, teori bisa dicari, tapi kemauan hanya bisa didapat dengan cara pemaksaan. Bahwa kita sadar dengan kewajiban kita, komitmen kita. Tapi tetap saja kita perlu memaksa diri kita untuk melakukannya.
Cobalah untuk membuka daftar-daftar komitmen pribadi yang pernah kita canangkan. Atau mengingat-ingat komitmen yang pernah kita niatkan. Kita akan temukan, bahwa komitmen-komitmen yang belum terlaksana, sebab utamanya karena kita tidak pernah memulai untuk menjalaninya. Bila perbaikan keluarga godaannya adalah gengsi dan status, bila perbaikan masyarakat dan bangsa godaannya adalah banyak bicara sedikit kerja, maka godaan dalam pemenuhan komitmen pribadi adalah tipuan kesempurnaan. Maksudnya, seringkali kita tidak segera memulai dengan alasan semuanya belum sempurna, belum lengkap. Padahal menjadi sempurna adalah fase yang tak akan pernah bisa kita lalui. ■
Di tengah berbagai suasana buntu, terlalu sedikit orang yang bisa menjalani prinsip, “lakukan saja apa yang kita bisa”. Terlalu sedikit orang yang merdeka dan punya vitalitas, yang selalu bergairah untuk melakukan.
Beberapa rumpun masalah itu ada disekitar kita. Mungkin juga mengiringi hari-hari kita, atau menyesaki pikiran dan perasaan kita. Sebagiannya bersifat pribadi, sebagian yang lain bersifat kolektif. Uraian berikut adalah tiga peta utamanya:
Pertama, Memperbaiki Kualitas Keluarga
Keluarga adalah rumah jiwa kita. Kita boleh pergi entah kemana, tapi fitrah kita diciptakan untuk punya tempat kembali. Tempat menambatkan hati. Kesanalah, ke keluarga kita, bersama orang tua kita, atau istri kita, atau suami kita, juga anak-anak kita, hati kita selalu tertambat. Itu adalah fitrah yang tidak bisa kita ingkari.
Al-Qur’an menggambarkan tentang empat fungsi utama keluarga: Fungsi rekreasi, fungsi regenerasi, fungsi investasi dan fungsi kepemimpinan. Fungsi rekreasi ada pada cinta kasih dan rasa tentram yang ditumbuhkan Allah pada pasangan suami istri. “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”. (QS. Ar-Ruum: 21).
Fungsi regenerasi ada pada keberadaan anak-anak sebagai penerus keyakinan. Sebagaimana wasiat Ibrahim kepada anak-anaknya : “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memillih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.”
Fungsi investasi, terletak pada peranan anak yang merupakan satu dari tiga hal yang masih terus mengalirkan manfaatnya ketika orang sudah mati. Yaitu shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakan orang tua. Bahkan, menurut Imam Suyuthi, segala amal baik yang dilakukan anak, maka orang tuanya akan mendapat tembusan pahalanya, meskipun seandainya anak itu tidak mendo’akannya. Sebab orang tua merupakan perantara atas keberadaan mereka.
Fungsi kepemimpinan. Kaum lelaki sebagai pemimpin rumah tangga, maupun perempuan sebagai penanggung jawab property suami dan anak-anaknya. “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian laki-laki atas sebahagian perempuan dan karena laki-laki telah menafkahkan sebagian dari harta mereka” (QS. An-Nisa : 34).
Keempat fungsi di atas terangkum dalam do’a penuh makna : “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan : 74).
Sekarang, sejenak mari mengingat-ingat kembali. Apakah keempat fungsi itu ada di dalam rumah tangga kita? Adakah keempat fungsi itu tumbuh dengan baik di dalam keluarga kita? Sejujurnya, kini banyak keluarga yang letih. Jangankan untuk membangun fungsi kepemimpinan atau regenerasi. Kadang, fungsi rekreasi pun sudah tidak lagi bisa dijumpai.
Mungkin ada dari kita yang harus membenahi keluarganya dari sisi fungsi rekreasi. Salah satu bentuknya, sang suami harus punya penghasilan memadai. Sebab, nafkah merupakan representasi cinta dan kasih sayang secara lahiriyah. Untuk memiliki rumah perlu biaya. Untuk memiliki pakaian yang pantas perlu biaya. Untuk mendidik anak-anak perlu biaya. Alangkah banyak keluarga yang harus kita benahi. Alangkah banyak rumah tangga yang harus memperbaiki diri. Di rumah-rumah yang mulai pengap dan tidak ada lagi keharmonisan, kita harus belajar tentang bagaimana menjadi manusia merdeka. Kita harus memulai apa yang bisa kita lakukan. Di peta ini kita harus menggambar kembali. Di layar ini kita harus bercermin kembali. Masalahnya mungkin sangat banyak. Tapi solusi cepatnya adalah, lakukan saja apa yang kita bisa.
Bila tak ada kedamaian di rumah, maka tak ada lagi kedamaian yang sesungguhnya.
Kedua, Membenahi Masyarakat dan Negara
Seperti apa masyarakat tempat kita berada, akan mempengaruhi keadaan kita, baik atau buruknya, mudah atau sulitnya. Seperti apa kondisi negara tempat kita menjadi warganya, akan sangat berdampak pada warna hidup kita. Karenanya, bersikap masa bodoh atas keterpurukan masyarakat atau bangsa, dengan alasan apapun, sebenarnya berarti bersikap masa bodoh dengan nasib diri sendiri.
Perbaikan sebuah bangsa punya dua jalur utama. Jalur sosial kultural dan jalur politik kekuasaan. Keduanya saling terkait dan saling melengkapi. Di dua jalur utama itu kita layak bertanya, apa yang telah kita lakukan? Kita bisa menggerutu, tapi inti bangsa ini pada dasarnya adalah kita-kita juga. Di jalur sosial kultural maupun di ranah politik kekuasaan, seharusnya kita berada di salah satu dari keduanya atau malah di dua-duanya.
Jadi, lakukan saja apa yang kita bisa. Di masyarakat kita, di lingkungan kita, lingkungan tempat tinggal ataupun lingkungan tempat kerja, ada banyak hal yang bisa kita lakukan. Pembenahan bisa kita mulai dari lingkungan otoritas yang kita punya, sekecil apapun otoritas itu. Terlebih bila kita ditakdirkan punya otoritas besar.
Ketiga, Memenuhi Komitmen Pribadi
Di wilayah pribadi ini, tantangan terberatnya justru karena kita bisa memulai atau tidak memulai. Karena kita bisa memillih untuk mau atau tidak mau. Komitmen diri kita sangat banyak, bentuknya adalah harapan dan cita-cita. Seperti keinginan kita untuk sukses sebagai pendidik, atau sebagai pengusaha, sebagai pakar di bidang tertentu, atau sebagai apa saja.
Memenuhi komitmen pribadi memerlukan banyak sekali ilmu. Tapi mesin utamanya tetaplah kemauan, dan tombol start-nya adalah prinsip “mulai saja apa yang kita bisa”. Memenuhi komitmen diri tidaklah ringan. Ilmu bisa dipelajari, teori bisa dicari, tapi kemauan hanya bisa didapat dengan cara pemaksaan. Bahwa kita sadar dengan kewajiban kita, komitmen kita. Tapi tetap saja kita perlu memaksa diri kita untuk melakukannya.
Cobalah untuk membuka daftar-daftar komitmen pribadi yang pernah kita canangkan. Atau mengingat-ingat komitmen yang pernah kita niatkan. Kita akan temukan, bahwa komitmen-komitmen yang belum terlaksana, sebab utamanya karena kita tidak pernah memulai untuk menjalaninya. Bila perbaikan keluarga godaannya adalah gengsi dan status, bila perbaikan masyarakat dan bangsa godaannya adalah banyak bicara sedikit kerja, maka godaan dalam pemenuhan komitmen pribadi adalah tipuan kesempurnaan. Maksudnya, seringkali kita tidak segera memulai dengan alasan semuanya belum sempurna, belum lengkap. Padahal menjadi sempurna adalah fase yang tak akan pernah bisa kita lalui. ■
Jumat, 18 Juni 2010
KEKAYAAN BERUPA "KESEHATAN"
Suatu ketika di sore hari, saya menjenguk anak dari pemilik kontrakan kios yang saya sewa di daerah Kalimalang. Rumah Sakit yang saya kunjungi adalah Rumah Sakit Angkatan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Orang yang saya jenguk dan istrinya menceritakan kepada saya dan saya mendengarkan dengan penuh antusias. Ceritanya sungguh menyentuh rasa kemanusiaan dalam diri saya, dia harus rela menjalani hidup melalui transfuse darah seumur hidupnya.
Yang membuat saya terharu adalah dia sebelumnya adalah manusia ‘independen’ dalam menjalani kehidupan, namun sekarang hidupnya sangat tergantung pada sebuah alat pencuci darah. Saya jadi teringat cerita-cerita tentang penyakit ini. Ada yang telah menjalani cuci darah ini selama 18 tahun dan ada yang lebih dari itu. Biasanya mereka memiliki jiwa yang relatif tidak stabil, hal ini diakibatkan dari proses pencucian darah yang berlangsung cukup lama, mereka hilang kebebasan hidup, hingga keluhan rusaknya pembuluh nadi darah karena harus terus menerus seminggu sekali untuk terkena jarum transfuse dalam jangka waktu yang panjang.
Dan yang membuat tertegun saya adalah biaya yang relatif mahal untuk ukuran rata-rata penduduk Indonesia, sekali cuci darah menghabiskan biaya minimal satu juta rupiah, jika seminggu sekali rutin dilaksanakan minimal harus menyiapkan dana empat juta rupiah diluar obat dan biaya rumah sakit.
Banyak kisah-kisah lain yang berhubungan dengan berbagai jenis kemalangan dan penyakit. Tentu hal ini seharusnya menimbulkan rasa syukur kita atas nikmat kesehatan yang sampai detik ini masih Allah berikan kepada kita, meskipun mungkin saat ini diantara Bapak/Ibu/Saudara/Kakak/Adik tengah mengalami satu penyakit yang sampai saat ini belum diberi kesembuhan oleh Allah SWT. Yah…. Itulah kehidupan. Terkadang saya menerawang ke kehidupan ketika masih kecil. Kenangan indah sewaktu kecil sempat terlintas dalam benak pikiran saya, hingga proses kehidupan ini berjalan sampai sekarang ini yang telah memiliki kehidupan pribadi dengan tanggung jawab terhadap diri dan keluarga.
Bapak/Ibu sekalian, nikmat Allah itu terkadang baru dirasakan manusia ketika ia telah hilang dari dalam diri kita, selama nikmati itu masih berada dalam diri kita hal itu tidak dirasakan, dan seringkali dijadikan sebagai alat untuk bermaksiat kepada Allah. Na’udzu billahi min dzalik.
Dalam Al-Qur’an disebutkan mengenai ujian kesehatan juga diberikan kepada para rasul-Nya: “Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit) kemudian ia bertaubat.” (QS. Shad : 34).
“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, ‘(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang’.” (QS. Al-Anbiya : 83).
Jangan pernah menyerah!. Apapun kondisi kita saat ini, misalnya kekurangan harta, itu belum seberapa dibandingkan nikmat berupa kekayaan terbesar dalam hidup manusia, kesehatan!.
Seorang Rasul sekelas Nabi Sulaiman saja dengan kekayaan yang luar biasa diberikan kepadanya bukan hanya dari harta benda dan manusia, namun juga bangsa jin, hewan dan (maaf) setan turut menjadi bala tentaranya. Namun ketika Allah berikan penyakit, maka tidak akan bisa ia menikmati kekayaan dan kekuasaannya itu.
Begitu pula dengan kita, hal sepele saja, satu nikmati Allah berupa nafas dicabut kenikmatannya sehingga kita sakit flu, baru akan terasa sekali nikmatnya nafas lega namun ketika kita sehat tak terasa nikmat itu.
Siapa yang mau jantungnya ditukar dengan emas satu ton? Atau siapa yang ingin hatinya diambil untuk digantikan Rumah mewah berikut isinya? Atau mata kita dua-duanya diberikan kepada orang yang berani membayar 10 milyar rupiah? Maukah kita….?
Bapak/Ibu keluarga besar IKKW yang dirahmati Allah
Dalam kehidupan ini tentu sunatullah ketika kita mendapatkan kenikmatan, kesenangan dan kebahagiaan dari proses perjalanan hidup. Di sisi lain kita juga akan mendapatkan masalah, ujian dan musibah tapi dalam menghadapi dan penyikapannya setiap orang berbeda-beda.
Banyak yang beranggapan bahwa kesenangan dan kebahagiaan hidup adalah sebuah anugerah bagi seorang manusia, sesungguhnya di balik anugerah itu terdapat ujian hidup lainnya berupa rasa syukur, kepedulian terhadap kaum dhuafa, dan tidak bertindak mubazir dalam segala hal. Ujian berupa kesenangan kadang lebih banyak menjebak manusia dalam memaknai kehidupannya, mereka menjadi lalai dan tertipu dengan segala permainan dan godaan dunia.
“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.” (QS. Muhammad : 36).
Penyikapan yang baik berupa pengendalian diri yaitu bersikap untuk menjaga diri dari hal-hal yang berlebihan, senantiasa mengingat Allah dalam semua proses dan menumbuhkan rasa syukur yang terwujud dalam perbuatan bukanlah perkara mudah. Ujian ini menjadikan manusia agar senantiasa tetap waspada dari kenikmatan yang Allah berikan dalam menjalankan kehidupannya.
Namun tidak sedikit pula penyikapan manusia yang menjadikan ujian berupa masalah hidup, musibah, kemiskinan, penyakit sebagai sebuah kehinaan hingga menyebabkan mereka terseret pada kekufuran, seperti diungkapkan dalam sebuah hadis Nabi, “Sesungguhnya kefakiran mendekatkan pada kekufuran”. Penyikapan manusia yang menjadikan masalah, ujian hidup, penyakit serta musibah sebagai kehinaan dan berujung menjadi sebuah beban maka langkah-langkah untuk mengatasinya menjadi lebih berat. Karena menjadi sebuah beban maka ia akan berusaha secepat mungkin dan tergesa-gesa untuk meringankan bebannya. Alih-alih bebannya berkurang justru yang ia rasakan semakin bertambah karena cara mengatasinya yang tidak tepat. Pertama ia merasakan memikul beban seorang diri, merasa yang paling terzhalimi di dunia dan memandang disekelilingnya dengan sinis dan memusuhi sehingga dunia terasa semakin menghimpit, gelap dan tidak menemukan solusi yang akhirnya berujung pada keputusasaan!.
Yang membuat saya terharu adalah dia sebelumnya adalah manusia ‘independen’ dalam menjalani kehidupan, namun sekarang hidupnya sangat tergantung pada sebuah alat pencuci darah. Saya jadi teringat cerita-cerita tentang penyakit ini. Ada yang telah menjalani cuci darah ini selama 18 tahun dan ada yang lebih dari itu. Biasanya mereka memiliki jiwa yang relatif tidak stabil, hal ini diakibatkan dari proses pencucian darah yang berlangsung cukup lama, mereka hilang kebebasan hidup, hingga keluhan rusaknya pembuluh nadi darah karena harus terus menerus seminggu sekali untuk terkena jarum transfuse dalam jangka waktu yang panjang.
Dan yang membuat tertegun saya adalah biaya yang relatif mahal untuk ukuran rata-rata penduduk Indonesia, sekali cuci darah menghabiskan biaya minimal satu juta rupiah, jika seminggu sekali rutin dilaksanakan minimal harus menyiapkan dana empat juta rupiah diluar obat dan biaya rumah sakit.
Banyak kisah-kisah lain yang berhubungan dengan berbagai jenis kemalangan dan penyakit. Tentu hal ini seharusnya menimbulkan rasa syukur kita atas nikmat kesehatan yang sampai detik ini masih Allah berikan kepada kita, meskipun mungkin saat ini diantara Bapak/Ibu/Saudara/Kakak/Adik tengah mengalami satu penyakit yang sampai saat ini belum diberi kesembuhan oleh Allah SWT. Yah…. Itulah kehidupan. Terkadang saya menerawang ke kehidupan ketika masih kecil. Kenangan indah sewaktu kecil sempat terlintas dalam benak pikiran saya, hingga proses kehidupan ini berjalan sampai sekarang ini yang telah memiliki kehidupan pribadi dengan tanggung jawab terhadap diri dan keluarga.
Bapak/Ibu sekalian, nikmat Allah itu terkadang baru dirasakan manusia ketika ia telah hilang dari dalam diri kita, selama nikmati itu masih berada dalam diri kita hal itu tidak dirasakan, dan seringkali dijadikan sebagai alat untuk bermaksiat kepada Allah. Na’udzu billahi min dzalik.
Dalam Al-Qur’an disebutkan mengenai ujian kesehatan juga diberikan kepada para rasul-Nya: “Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit) kemudian ia bertaubat.” (QS. Shad : 34).
“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, ‘(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang’.” (QS. Al-Anbiya : 83).
Jangan pernah menyerah!. Apapun kondisi kita saat ini, misalnya kekurangan harta, itu belum seberapa dibandingkan nikmat berupa kekayaan terbesar dalam hidup manusia, kesehatan!.
Seorang Rasul sekelas Nabi Sulaiman saja dengan kekayaan yang luar biasa diberikan kepadanya bukan hanya dari harta benda dan manusia, namun juga bangsa jin, hewan dan (maaf) setan turut menjadi bala tentaranya. Namun ketika Allah berikan penyakit, maka tidak akan bisa ia menikmati kekayaan dan kekuasaannya itu.
Begitu pula dengan kita, hal sepele saja, satu nikmati Allah berupa nafas dicabut kenikmatannya sehingga kita sakit flu, baru akan terasa sekali nikmatnya nafas lega namun ketika kita sehat tak terasa nikmat itu.
Siapa yang mau jantungnya ditukar dengan emas satu ton? Atau siapa yang ingin hatinya diambil untuk digantikan Rumah mewah berikut isinya? Atau mata kita dua-duanya diberikan kepada orang yang berani membayar 10 milyar rupiah? Maukah kita….?
Bapak/Ibu keluarga besar IKKW yang dirahmati Allah
Dalam kehidupan ini tentu sunatullah ketika kita mendapatkan kenikmatan, kesenangan dan kebahagiaan dari proses perjalanan hidup. Di sisi lain kita juga akan mendapatkan masalah, ujian dan musibah tapi dalam menghadapi dan penyikapannya setiap orang berbeda-beda.
Banyak yang beranggapan bahwa kesenangan dan kebahagiaan hidup adalah sebuah anugerah bagi seorang manusia, sesungguhnya di balik anugerah itu terdapat ujian hidup lainnya berupa rasa syukur, kepedulian terhadap kaum dhuafa, dan tidak bertindak mubazir dalam segala hal. Ujian berupa kesenangan kadang lebih banyak menjebak manusia dalam memaknai kehidupannya, mereka menjadi lalai dan tertipu dengan segala permainan dan godaan dunia.
“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.” (QS. Muhammad : 36).
Penyikapan yang baik berupa pengendalian diri yaitu bersikap untuk menjaga diri dari hal-hal yang berlebihan, senantiasa mengingat Allah dalam semua proses dan menumbuhkan rasa syukur yang terwujud dalam perbuatan bukanlah perkara mudah. Ujian ini menjadikan manusia agar senantiasa tetap waspada dari kenikmatan yang Allah berikan dalam menjalankan kehidupannya.
Namun tidak sedikit pula penyikapan manusia yang menjadikan ujian berupa masalah hidup, musibah, kemiskinan, penyakit sebagai sebuah kehinaan hingga menyebabkan mereka terseret pada kekufuran, seperti diungkapkan dalam sebuah hadis Nabi, “Sesungguhnya kefakiran mendekatkan pada kekufuran”. Penyikapan manusia yang menjadikan masalah, ujian hidup, penyakit serta musibah sebagai kehinaan dan berujung menjadi sebuah beban maka langkah-langkah untuk mengatasinya menjadi lebih berat. Karena menjadi sebuah beban maka ia akan berusaha secepat mungkin dan tergesa-gesa untuk meringankan bebannya. Alih-alih bebannya berkurang justru yang ia rasakan semakin bertambah karena cara mengatasinya yang tidak tepat. Pertama ia merasakan memikul beban seorang diri, merasa yang paling terzhalimi di dunia dan memandang disekelilingnya dengan sinis dan memusuhi sehingga dunia terasa semakin menghimpit, gelap dan tidak menemukan solusi yang akhirnya berujung pada keputusasaan!.
Rabu, 26 Mei 2010
MEMBANTU SESAMA
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Bapak/Ibu/Kakak/Adik/Sdr/i, Keluarga Besar IKKW yang berbahagia. Pujian yang kita dapatkan atas prestasi yang diraih tidak semata-mata hasil dari usaha kita sendiri. Di sana ada kontribusi pihak lain. Misal, guru yang telah mengajari kita, orang tua yang telah membimbing dan mendidik kita dari kecil hingga saat ini, Kakak, Adik, Saudara, Suami atau Istri dan teman-teman sekolah atau teman kerja yang selalu ada bersama kita. Lebih jauh, semuanya tidak akan terwujud tanpa pertolongan dari Allah SWT. Jika sekarang kita punya rezeki dan ilmu, orientasi kita seharusnya adalah mendistribusikan keduanya untuk menguatkan orang lain. Untuk itu, kita bisa memulainya dengan sanak saudara atau tetangga terdekat kita. Kita harus mulai memiliki peta tentang keadaan saudara-saudara dan tetangga kita.
Untuk apa kita berjaya sementara saudara kita mengemis-ngemis mohon belas kasihan pada orang lain. Kita bisa mendukung mereka dengan cara mengajari mereka untuk mandiri dan mapan. Buatlah program pemberdayaan umat. Membekali mereka dengan keahlian-keahlian merupakan program membantu sesama untuk mencapai kesuksesan. Andaikata orang yang sukses merasa bahwa hanya dirinyalah yang sukses, maka sebenarnya dia telah gagal.
Idealnya, membantu sesama harus menjadi sebuah motivasi bagi setiap kita untuk lebih produktif. Kita harus kenal betul potensi kita masing-masing. Mungkin saja fulan A saat ini sedang membutuhkan bantuan fulan B. Pada saat lain kondisinya berbalik, fulan B yang membutuhkan pertolongan fulan A. Dengan potensi yang dimiliki masing-masing, kita akan tahu bagaimana cara memberdayakannya. Jangan sampai pertolongan yang dilakukan membuat seseorang tergantung pada orang lain. Dia menjadi malas dan suka berleha-leha.
Memberikan inisiatif untuk melakukan sesuatu yang menghasilkan adalah sebuah upaya membantu sesama yang sangat brilian. Merupakan sedekah jika kita memberi inisiatif, membangkitkan semangat saudara kita untuk berkarya, memfasilitasi saudara-saudara kita yang potensial dalam suatu bidang, atau membantu saudara kita untuk lebih maju, bahagia dan sejahtera sesuai dengan visi dan misi berdirinya IKKW.
Kita harus berjuang dengan gigih untuk membantu saudara kita dan itulah satu tanda kesuksesan kita. Sebaik-baik manusia adalah manusia yang membawa manfaat bagi manusia lainnya. Wallahu a’lam.
Bapak/Ibu/Kakak/Adik/Sdr/i, Keluarga Besar IKKW yang berbahagia. Pujian yang kita dapatkan atas prestasi yang diraih tidak semata-mata hasil dari usaha kita sendiri. Di sana ada kontribusi pihak lain. Misal, guru yang telah mengajari kita, orang tua yang telah membimbing dan mendidik kita dari kecil hingga saat ini, Kakak, Adik, Saudara, Suami atau Istri dan teman-teman sekolah atau teman kerja yang selalu ada bersama kita. Lebih jauh, semuanya tidak akan terwujud tanpa pertolongan dari Allah SWT. Jika sekarang kita punya rezeki dan ilmu, orientasi kita seharusnya adalah mendistribusikan keduanya untuk menguatkan orang lain. Untuk itu, kita bisa memulainya dengan sanak saudara atau tetangga terdekat kita. Kita harus mulai memiliki peta tentang keadaan saudara-saudara dan tetangga kita.
Untuk apa kita berjaya sementara saudara kita mengemis-ngemis mohon belas kasihan pada orang lain. Kita bisa mendukung mereka dengan cara mengajari mereka untuk mandiri dan mapan. Buatlah program pemberdayaan umat. Membekali mereka dengan keahlian-keahlian merupakan program membantu sesama untuk mencapai kesuksesan. Andaikata orang yang sukses merasa bahwa hanya dirinyalah yang sukses, maka sebenarnya dia telah gagal.
Idealnya, membantu sesama harus menjadi sebuah motivasi bagi setiap kita untuk lebih produktif. Kita harus kenal betul potensi kita masing-masing. Mungkin saja fulan A saat ini sedang membutuhkan bantuan fulan B. Pada saat lain kondisinya berbalik, fulan B yang membutuhkan pertolongan fulan A. Dengan potensi yang dimiliki masing-masing, kita akan tahu bagaimana cara memberdayakannya. Jangan sampai pertolongan yang dilakukan membuat seseorang tergantung pada orang lain. Dia menjadi malas dan suka berleha-leha.
Memberikan inisiatif untuk melakukan sesuatu yang menghasilkan adalah sebuah upaya membantu sesama yang sangat brilian. Merupakan sedekah jika kita memberi inisiatif, membangkitkan semangat saudara kita untuk berkarya, memfasilitasi saudara-saudara kita yang potensial dalam suatu bidang, atau membantu saudara kita untuk lebih maju, bahagia dan sejahtera sesuai dengan visi dan misi berdirinya IKKW.
Kita harus berjuang dengan gigih untuk membantu saudara kita dan itulah satu tanda kesuksesan kita. Sebaik-baik manusia adalah manusia yang membawa manfaat bagi manusia lainnya. Wallahu a’lam.
Kamis, 22 April 2010
MEMBANGUN KELUARGA BAHAGIA
Dalam menjalani kehidupan rumah tangga, semua orang akan mengatakan sama, berharap langgeng sampai akhir hayat. Bahkan kalau Allah berkenan, berharap perjalanan biduk terus bisa berjalan sampai kelak di akhirat, sehingga dapat bersama mengarungi bahtera indahnya kehidupan di Surga-Nya. Namun dalam alam nyata tidak setiap orang mampu mempertahankan keutuhan rumah tangga. Ada sebagian orang yang terpaksa atau mesti ikhlas kehilangan atau berpisah dengan orang yang dicintainya manakala rumah tangga belum lama berjalan atau masih berada di tengah lautan cinta. Ada hal-hal tertentu yang tak mungkin bagi keduanya untuk terus dilanjutkan kebersamaan. Berpisah menjadi jalan terbaik daripada semakin tidak karuan. Walaupun sebagian ada juga yang berpisah karena takdir-Nya yaitu ada satu pihak yang meninggalkan dunia fana ini lebih dahulu dibanding yang lainnya.
Di sinilah setiap yang berumah tangga dituntut paham betul bahwa ada banyak hal yang bisa mengancam keutuhan rumah tangga selama diarungi dan dilayari. Mulai sifat, sikap, perilaku, pemahaman agama, hingga hadirnya orang ketiga. Pemahaman seperti ini akan dapat membuat kita lebih berhati-hati dalam bersikap dan berperilaku terhadap pasangan. Jangan sampai apa yang kita lakukan membuat pasangan kecewa, marah, yang pada akhirnya membuatnya menceraikan kita atau meminta cerai kepada kita.
SIFAT DAN PERILAKU
Dalam kaitan dengan hal ini, banyak sifat dan perilaku yang bisa membuat suami atau istri kecewa. Seperti sifat pemarah atau temperamental (baik suami maupun istri). Dalam hal ini kalau suami maupun istri memiliki sifat seperti itu akan bisa membuat pasangannya tak suka, dan pada akhirnya tak tahan. Sifat lain, umpamanya pencemburu berat, sangat manja, suka su’uzhan, tidak taat pada suami, suka mengungkit-ungkit masa lalu, suka bermaksiat dan lain sebagainya.
Banyak keluarga yang bisa kita jadikan ibrah dalam hal ini. Cobalah lihat keluarga yang didalamnya ada kurang pengertian, kurang percayaan, maupun kurang iman, maka keluarga tersebut akan sering gontok-gontokan. Secara khusus Allah membuat kehidupan penghuni rumah yang demikian tidak tenang dan setanlah teman mereka, yang menjadi petunjuk dan sebagai panutan. Naudzubillahi mindzalik, semoga ini tak terjadi pada keluarga kita.
BILA PEMICU DARI ISTRI
Perilaku istri seringkali pemancing bagi terjadinya perceraian. Seorang teman pernah curhat tentang istrinya bahwa seringkali ia ingin mengeluarkan kata cerai saat melihat “pembangkangan” istrinya. Ia tak kuat terus berada dalam “rongrongan” sang istri. Kadangkala sampai ia berpikir istrinya seorang pendurhaka dan orang yang membawa sial. Tentu sifat/sikap istri tersebut benar-benar telah menyakitinya. Membuatnya kecewa luar biasa. Dan perlu diketahui para wanita bahwasanya kebanyakan ikhwan (suami) lebih panjang dalam berpikir dan merasakan sesuatu. Kalau sampai ia berpikir seperti itu berarti memang istrinya yang sudah kebangetan. Secepatnya seorang istri mesti segera introspeksi diri. Jangan sampai berlarut yang pada akhirnya meledak. Sudah selayaknya setiap istri banyak introspeksi diri. Apa yang telah dilakukannya hari ini, dan apa yang telah diperbuatnya minggu ini, dan apa yang telah diperbuatnya bulan ini. Adakah yang membuat suaminya kecewa ? Hendaknya terus dicoba untuk dibangun komunikasi yang baik antar keduanya.
Istri semestinya bisa memulai untuk banyak bertanya pada suaminya, dan bersabar ketika menerima “kejujuran” suaminya. Karena kadangkala kejujuran suami membuat kita sakit hati. Namun percayalah kalau memang itu kekurangan atau sebuah salah bersegeralah kita meminta maaf kemudian memperbaikinya. Kemarahan/ kekecewaan suami biasanya mereda manakala melihat rona penyesalan yang tulus dari istri. Secara otomatis hatinya akan luluh dengan kesenduan kita karena tidak/belum memaafkannya. Tentu ini terjadi pada suami yang paham agama dan mengerti bagaimana wanita. Sepantasnyalah para istri sering merayu suaminya untuk mendapatkan ridha dan maaf atas kesalahannya.
BILA SUAMI PANGKAL MASALAHNYA
Tidak hanya istri, suamipun seringkali menjadi biang keladi dari ketidakhar-monisan keluarga. Ia yang memicu terjadinya kekecewaan istri yang sangat mendalam. Padahal istri telah berbuat semaksimal mungkin untuk membuat suaminya selalu bahagia. Dan istri butuh dihormati atas apa yang dilakukanya. Sehingga wajarlah bila pada akhirnya istri tak tahan ketika terus diperlakukan tak adil, tidak dihormati, atau tak disayangi oleh suaminya. Biasanya istri yang kecewa akan menumpahkan perasaannya dengan “membangkang” pada suaminya. Banyak membantah atau balas berperilaku serupa dengan suaminya.
Keadaan seperti ini tentu tidak baik bagi jalannya biduk rumah tangga. Oleh karena itu, selayaknya pula suamipun rajin untuk introspeksi diri. Karena bisa jadi istri membangkang karena awalnya dari kita. Sudahkah hari ini suami mengasihi istrinya, menyayanginya, bersikap lembut kepadanya, menghargainya dan membuatnya tertawa atau senang dengan kita. Seorang suami mestinya mampu membuat istri ingin selalu dekat di sampingnya. Karena hal tersebut merupakan cerminan kepuasan istri dari pada suaminya. Yakinlah ia akan semakin sayang bila kita sayangi dengan setulus hati. Sebaliknya pun demikian.
Kejelekan suami yang banyak terjadi dan menjadi pemicu ketidak-harmonisan rumah tangga adalah sikap yang sewenang-wenang terhadap istri atau tak bertanggungjawab terhadap keluarganya. Bagi seorang istri, kedua sifat tersebut cukup fatal bila dimiliki seorang suami. Bagi yang tak tahan, maka bisa dipastikan rumah tangga takkan bertahan. Wanita tak kuat dibuat terus menekan perasaan apalagi merekalah manusia yang sangat perasa. Sehingga ketika rasa tertekan dalam diri tak tertahankan, lontaran ceraipun akan terucap dari mulutnya. Lebih baik bercerai daripada harus hidup menderita dan dalam bayang-bayang suami yang bersifat egois dan temperamental.
SALING MENGERTI ( PENGERTIAN )
Namun, tentu seorang istri tidak mudah meminta cerai gara-gara kecewa dengan suaminya. Yang hendaknya dilakukan adalah mencoba untuk terus meng-komunikasikannya. Bangunlah pilar nasihat dalam keluarga. Biasakan untuk saling mengingatkan bila ada salah satu yang berbuat salah. Insya Allah kalau suami mengerti agama ia akan dengan senang hati dinasihati, apalagi dari istri tercinta demi kebaikan bersama.
Suatu keluarga yang baik akan selalu mengutamakan keharmonisan bukan sebaliknya. Disinilah baik suami maupun istri mesti selalu berkomitmen untuk terus bersama. Masalah takkan memisahkan keduanya kecuali maut yang menjemput. Apalagi cuma masalah karena dunia. Kebersamaan selamanya lebih penting dari sekedar materi dan dunia.
Mari kita bangun keluarga yang harmonis, yang bisa terus terbentuk kasih sayang dan cinta selamanya.
(Kepustakaan : Majalah Nikah Vol. 4 No. 5, Agustus 2005.)
Di sinilah setiap yang berumah tangga dituntut paham betul bahwa ada banyak hal yang bisa mengancam keutuhan rumah tangga selama diarungi dan dilayari. Mulai sifat, sikap, perilaku, pemahaman agama, hingga hadirnya orang ketiga. Pemahaman seperti ini akan dapat membuat kita lebih berhati-hati dalam bersikap dan berperilaku terhadap pasangan. Jangan sampai apa yang kita lakukan membuat pasangan kecewa, marah, yang pada akhirnya membuatnya menceraikan kita atau meminta cerai kepada kita.
SIFAT DAN PERILAKU
Dalam kaitan dengan hal ini, banyak sifat dan perilaku yang bisa membuat suami atau istri kecewa. Seperti sifat pemarah atau temperamental (baik suami maupun istri). Dalam hal ini kalau suami maupun istri memiliki sifat seperti itu akan bisa membuat pasangannya tak suka, dan pada akhirnya tak tahan. Sifat lain, umpamanya pencemburu berat, sangat manja, suka su’uzhan, tidak taat pada suami, suka mengungkit-ungkit masa lalu, suka bermaksiat dan lain sebagainya.
Banyak keluarga yang bisa kita jadikan ibrah dalam hal ini. Cobalah lihat keluarga yang didalamnya ada kurang pengertian, kurang percayaan, maupun kurang iman, maka keluarga tersebut akan sering gontok-gontokan. Secara khusus Allah membuat kehidupan penghuni rumah yang demikian tidak tenang dan setanlah teman mereka, yang menjadi petunjuk dan sebagai panutan. Naudzubillahi mindzalik, semoga ini tak terjadi pada keluarga kita.
BILA PEMICU DARI ISTRI
Perilaku istri seringkali pemancing bagi terjadinya perceraian. Seorang teman pernah curhat tentang istrinya bahwa seringkali ia ingin mengeluarkan kata cerai saat melihat “pembangkangan” istrinya. Ia tak kuat terus berada dalam “rongrongan” sang istri. Kadangkala sampai ia berpikir istrinya seorang pendurhaka dan orang yang membawa sial. Tentu sifat/sikap istri tersebut benar-benar telah menyakitinya. Membuatnya kecewa luar biasa. Dan perlu diketahui para wanita bahwasanya kebanyakan ikhwan (suami) lebih panjang dalam berpikir dan merasakan sesuatu. Kalau sampai ia berpikir seperti itu berarti memang istrinya yang sudah kebangetan. Secepatnya seorang istri mesti segera introspeksi diri. Jangan sampai berlarut yang pada akhirnya meledak. Sudah selayaknya setiap istri banyak introspeksi diri. Apa yang telah dilakukannya hari ini, dan apa yang telah diperbuatnya minggu ini, dan apa yang telah diperbuatnya bulan ini. Adakah yang membuat suaminya kecewa ? Hendaknya terus dicoba untuk dibangun komunikasi yang baik antar keduanya.
Istri semestinya bisa memulai untuk banyak bertanya pada suaminya, dan bersabar ketika menerima “kejujuran” suaminya. Karena kadangkala kejujuran suami membuat kita sakit hati. Namun percayalah kalau memang itu kekurangan atau sebuah salah bersegeralah kita meminta maaf kemudian memperbaikinya. Kemarahan/ kekecewaan suami biasanya mereda manakala melihat rona penyesalan yang tulus dari istri. Secara otomatis hatinya akan luluh dengan kesenduan kita karena tidak/belum memaafkannya. Tentu ini terjadi pada suami yang paham agama dan mengerti bagaimana wanita. Sepantasnyalah para istri sering merayu suaminya untuk mendapatkan ridha dan maaf atas kesalahannya.
BILA SUAMI PANGKAL MASALAHNYA
Tidak hanya istri, suamipun seringkali menjadi biang keladi dari ketidakhar-monisan keluarga. Ia yang memicu terjadinya kekecewaan istri yang sangat mendalam. Padahal istri telah berbuat semaksimal mungkin untuk membuat suaminya selalu bahagia. Dan istri butuh dihormati atas apa yang dilakukanya. Sehingga wajarlah bila pada akhirnya istri tak tahan ketika terus diperlakukan tak adil, tidak dihormati, atau tak disayangi oleh suaminya. Biasanya istri yang kecewa akan menumpahkan perasaannya dengan “membangkang” pada suaminya. Banyak membantah atau balas berperilaku serupa dengan suaminya.
Keadaan seperti ini tentu tidak baik bagi jalannya biduk rumah tangga. Oleh karena itu, selayaknya pula suamipun rajin untuk introspeksi diri. Karena bisa jadi istri membangkang karena awalnya dari kita. Sudahkah hari ini suami mengasihi istrinya, menyayanginya, bersikap lembut kepadanya, menghargainya dan membuatnya tertawa atau senang dengan kita. Seorang suami mestinya mampu membuat istri ingin selalu dekat di sampingnya. Karena hal tersebut merupakan cerminan kepuasan istri dari pada suaminya. Yakinlah ia akan semakin sayang bila kita sayangi dengan setulus hati. Sebaliknya pun demikian.
Kejelekan suami yang banyak terjadi dan menjadi pemicu ketidak-harmonisan rumah tangga adalah sikap yang sewenang-wenang terhadap istri atau tak bertanggungjawab terhadap keluarganya. Bagi seorang istri, kedua sifat tersebut cukup fatal bila dimiliki seorang suami. Bagi yang tak tahan, maka bisa dipastikan rumah tangga takkan bertahan. Wanita tak kuat dibuat terus menekan perasaan apalagi merekalah manusia yang sangat perasa. Sehingga ketika rasa tertekan dalam diri tak tertahankan, lontaran ceraipun akan terucap dari mulutnya. Lebih baik bercerai daripada harus hidup menderita dan dalam bayang-bayang suami yang bersifat egois dan temperamental.
SALING MENGERTI ( PENGERTIAN )
Namun, tentu seorang istri tidak mudah meminta cerai gara-gara kecewa dengan suaminya. Yang hendaknya dilakukan adalah mencoba untuk terus meng-komunikasikannya. Bangunlah pilar nasihat dalam keluarga. Biasakan untuk saling mengingatkan bila ada salah satu yang berbuat salah. Insya Allah kalau suami mengerti agama ia akan dengan senang hati dinasihati, apalagi dari istri tercinta demi kebaikan bersama.
Suatu keluarga yang baik akan selalu mengutamakan keharmonisan bukan sebaliknya. Disinilah baik suami maupun istri mesti selalu berkomitmen untuk terus bersama. Masalah takkan memisahkan keduanya kecuali maut yang menjemput. Apalagi cuma masalah karena dunia. Kebersamaan selamanya lebih penting dari sekedar materi dan dunia.
Mari kita bangun keluarga yang harmonis, yang bisa terus terbentuk kasih sayang dan cinta selamanya.
(Kepustakaan : Majalah Nikah Vol. 4 No. 5, Agustus 2005.)
Senin, 01 Maret 2010
Pentingnya Hidup Sederhana
PENTINGNYA HIDUP SEDERHANA
Keinginan itu biasanya tidak ada ujungnya. Hidup sederhana adalah lebih utama”.
Dengan hidup sederhana, tidak berlebihan, kita memiliki anggaran berlebih untuk ibadah, untuk meningkatkan kemampuan kita, dan untuk beramal saleh menolong sesama. Semoga Allah Yang Maha Kaya mengaruniakan kekayaan yang penuh berkah, dan melindungi kita dan tipu daya kekayaan yang menjadi fitnah.
Saudaraku, salah satu penyebab maraknya korupsi di negeri kita adalah kegemaran sebagian orang terhadap kemewahan dan menggejalanya pola hidup konsumtif. Memang, tantangan untuk tampil lebih konsumtif sangat terbuka disekitar kita. Tayangan televisi sering membuat standar hidup melampaui kemampuan yang kita miliki. Iklan-iklan tidak semuanya memberikan keinginan primer, tapi juga yang sekunder dan tertier yang tidak terlalu penting. Tidak dilarang kita memiliki, tapi apakah yang kita miliki ini tergolong kemewahan atau tidak? Itulah yang harus kita pertanyakan. Lalu apa kerugian hidup bermewah-mewah? Di zaman sekarang kemewahan bisa membawa bencana. Minimal dicurigai orang lain. Siksaan pertama dari kemewahan adalah ingin pamer, ingin diketahui orang lain. Siksaan kedua dari kemewahan adalah takut ada saingan. Pemuja kemewahan akan mudah dengkinya kepada yang punya lebih. Penyakit ketiga cemas, takut rusak, takut dicuri. Makin mahal barang yang dimiliki, kita akan semakin takut kehilangan.
Tampaknya, pola hidup sederhana harus dibudayakan kembali di masyarakat. Tak terkecuali di keluarga kita. Kalau orang tua memberikan contoh pada anak-anaknya tentang kesederhanaan, maka anak akan terjaga dari merasa diri lebih dari orang lain, tidak senang dengan kemewahan, dan mampu mengendalikan diri dari hidup bermewah-mewah.
Saudaraku, sederhana adalah suatu keindahan. Mengapa ? Karena seseorang yang sederhana akan mudah melepaskan diri dari kesombongan dan lebih mudah meraba penderitaan orang lain. Jadi, bagi orang yang merasa penampilannya kurang indah, perindahlah dengan kesederhanaan. Sederhana adalah buah dari kekuatan mengendalikan keinginan.
Dalam Islam, kaya itu bukan hal yang hina, bahkan dianjurkan. Perintah zakat bisa dipenuhi kalau kita punya harta, demikian pula perintah haji. Yang dilarang itu adalah berlebih-lebihan. Dalam QS At-Takaatsur, Allah SWT dengan tegas mencela orang yang berlebih-lebihan. Memang kita harus kaya tapi tidak harus bermegah-megah. Beli apa saja asal perlu, bukan karena ingin. Keinginan itu biasanya tidak ada ujungnya. Beli semua yang kita mampu beli, asal manfaat. Saya tidak mengajak untuk miskin, tapi mengajak agar kita berhati-hati dengan keinginan hidup mewah.
Satu hal yang penting, ternyata di negara manapun orang yang bersahaja itu lebih disegani, lebih dihormati daripada orang yang bergelimang kemewahan. Apalagi mewahnya tidak jelas asal-usulnya. Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat sederhana, tidak ada singgasana, tidak ada mahkota. Lalu, untuk apa Rasulullah SAW memiliki harta? Beliau menggunakan harta ersebut untuk menyebarkan risalah Islam, berdakwah, membantu fakir miskin, dan memberdayakan orang-orang yang lemah.
Dari apa yang dicontohkan Rasulullah SAW, kita harus kaya dan harus mendistribusikan kekayaan tersebut pada sebanyak-banyak orang, minimal untuk orang terdekat. Maka, bila kita memiliki uang dan kebutuhan keluarga telah terpenuhi, bersihkan dari hak orang lain dengan berzakat. Kalau masih ada lebih, maka siapkan untuk orang tua, mertua, sanak saudara dan lain, dst. Kakak-adik, keponakan, juga harus kita pikirkan. Kekayaan kita harus dapat dinikmati banyak orang.
Semoga dengan hidup sederhana; tidak berlebihan, kita memiliki anggaran berlebih untuk ibadah, untuk meningkatkan kemampuan kita dan untuk beramal saleh menolong sesama. Amin.
Keinginan itu biasanya tidak ada ujungnya. Hidup sederhana adalah lebih utama”.
Dengan hidup sederhana, tidak berlebihan, kita memiliki anggaran berlebih untuk ibadah, untuk meningkatkan kemampuan kita, dan untuk beramal saleh menolong sesama. Semoga Allah Yang Maha Kaya mengaruniakan kekayaan yang penuh berkah, dan melindungi kita dan tipu daya kekayaan yang menjadi fitnah.
Saudaraku, salah satu penyebab maraknya korupsi di negeri kita adalah kegemaran sebagian orang terhadap kemewahan dan menggejalanya pola hidup konsumtif. Memang, tantangan untuk tampil lebih konsumtif sangat terbuka disekitar kita. Tayangan televisi sering membuat standar hidup melampaui kemampuan yang kita miliki. Iklan-iklan tidak semuanya memberikan keinginan primer, tapi juga yang sekunder dan tertier yang tidak terlalu penting. Tidak dilarang kita memiliki, tapi apakah yang kita miliki ini tergolong kemewahan atau tidak? Itulah yang harus kita pertanyakan. Lalu apa kerugian hidup bermewah-mewah? Di zaman sekarang kemewahan bisa membawa bencana. Minimal dicurigai orang lain. Siksaan pertama dari kemewahan adalah ingin pamer, ingin diketahui orang lain. Siksaan kedua dari kemewahan adalah takut ada saingan. Pemuja kemewahan akan mudah dengkinya kepada yang punya lebih. Penyakit ketiga cemas, takut rusak, takut dicuri. Makin mahal barang yang dimiliki, kita akan semakin takut kehilangan.
Tampaknya, pola hidup sederhana harus dibudayakan kembali di masyarakat. Tak terkecuali di keluarga kita. Kalau orang tua memberikan contoh pada anak-anaknya tentang kesederhanaan, maka anak akan terjaga dari merasa diri lebih dari orang lain, tidak senang dengan kemewahan, dan mampu mengendalikan diri dari hidup bermewah-mewah.
Saudaraku, sederhana adalah suatu keindahan. Mengapa ? Karena seseorang yang sederhana akan mudah melepaskan diri dari kesombongan dan lebih mudah meraba penderitaan orang lain. Jadi, bagi orang yang merasa penampilannya kurang indah, perindahlah dengan kesederhanaan. Sederhana adalah buah dari kekuatan mengendalikan keinginan.
Dalam Islam, kaya itu bukan hal yang hina, bahkan dianjurkan. Perintah zakat bisa dipenuhi kalau kita punya harta, demikian pula perintah haji. Yang dilarang itu adalah berlebih-lebihan. Dalam QS At-Takaatsur, Allah SWT dengan tegas mencela orang yang berlebih-lebihan. Memang kita harus kaya tapi tidak harus bermegah-megah. Beli apa saja asal perlu, bukan karena ingin. Keinginan itu biasanya tidak ada ujungnya. Beli semua yang kita mampu beli, asal manfaat. Saya tidak mengajak untuk miskin, tapi mengajak agar kita berhati-hati dengan keinginan hidup mewah.
Satu hal yang penting, ternyata di negara manapun orang yang bersahaja itu lebih disegani, lebih dihormati daripada orang yang bergelimang kemewahan. Apalagi mewahnya tidak jelas asal-usulnya. Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat sederhana, tidak ada singgasana, tidak ada mahkota. Lalu, untuk apa Rasulullah SAW memiliki harta? Beliau menggunakan harta ersebut untuk menyebarkan risalah Islam, berdakwah, membantu fakir miskin, dan memberdayakan orang-orang yang lemah.
Dari apa yang dicontohkan Rasulullah SAW, kita harus kaya dan harus mendistribusikan kekayaan tersebut pada sebanyak-banyak orang, minimal untuk orang terdekat. Maka, bila kita memiliki uang dan kebutuhan keluarga telah terpenuhi, bersihkan dari hak orang lain dengan berzakat. Kalau masih ada lebih, maka siapkan untuk orang tua, mertua, sanak saudara dan lain, dst. Kakak-adik, keponakan, juga harus kita pikirkan. Kekayaan kita harus dapat dinikmati banyak orang.
Semoga dengan hidup sederhana; tidak berlebihan, kita memiliki anggaran berlebih untuk ibadah, untuk meningkatkan kemampuan kita dan untuk beramal saleh menolong sesama. Amin.
Langganan:
Postingan (Atom)