Rabu, 26 Mei 2010

MEMBANTU SESAMA

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Bapak/Ibu/Kakak/Adik/Sdr/i, Keluarga Besar IKKW yang berbahagia. Pujian yang kita dapatkan atas prestasi yang diraih tidak semata-mata hasil dari usaha kita sendiri. Di sana ada kontribusi pihak lain. Misal, guru yang telah mengajari kita, orang tua yang telah membimbing dan mendidik kita dari kecil hingga saat ini, Kakak, Adik, Saudara, Suami atau Istri dan teman-teman sekolah atau teman kerja yang selalu ada bersama kita. Lebih jauh, semuanya tidak akan terwujud tanpa pertolongan dari Allah SWT. Jika sekarang kita punya rezeki dan ilmu, orientasi kita seharusnya adalah mendistribusikan keduanya untuk menguatkan orang lain. Untuk itu, kita bisa memulainya dengan sanak saudara atau tetangga terdekat kita. Kita harus mulai memiliki peta tentang keadaan saudara-saudara dan tetangga kita.
Untuk apa kita berjaya sementara saudara kita mengemis-ngemis mohon belas kasihan pada orang lain. Kita bisa mendukung mereka dengan cara mengajari mereka untuk mandiri dan mapan. Buatlah program pemberdayaan umat. Membekali mereka dengan keahlian-keahlian merupakan program membantu sesama untuk mencapai kesuksesan. Andaikata orang yang sukses merasa bahwa hanya dirinyalah yang sukses, maka sebenarnya dia telah gagal.
Idealnya, membantu sesama harus menjadi sebuah motivasi bagi setiap kita untuk lebih produktif. Kita harus kenal betul potensi kita masing-masing. Mungkin saja fulan A saat ini sedang membutuhkan bantuan fulan B. Pada saat lain kondisinya berbalik, fulan B yang membutuhkan pertolongan fulan A. Dengan potensi yang dimiliki masing-masing, kita akan tahu bagaimana cara memberdayakannya. Jangan sampai pertolongan yang dilakukan membuat seseorang tergantung pada orang lain. Dia menjadi malas dan suka berleha-leha.
Memberikan inisiatif untuk melakukan sesuatu yang menghasilkan adalah sebuah upaya membantu sesama yang sangat brilian. Merupakan sedekah jika kita memberi inisiatif, membangkitkan semangat saudara kita untuk berkarya, memfasilitasi saudara-saudara kita yang potensial dalam suatu bidang, atau membantu saudara kita untuk lebih maju, bahagia dan sejahtera sesuai dengan visi dan misi berdirinya IKKW.
Kita harus berjuang dengan gigih untuk membantu saudara kita dan itulah satu tanda kesuksesan kita. Sebaik-baik manusia adalah manusia yang membawa manfaat bagi manusia lainnya. Wallahu a’lam.

Kamis, 22 April 2010

MEMBANGUN KELUARGA BAHAGIA

Dalam menjalani kehidupan rumah tangga, semua orang akan mengatakan sama, berharap langgeng sampai akhir hayat. Bahkan kalau Allah berkenan, berharap perjalanan biduk terus bisa berjalan sampai kelak di akhirat, sehingga dapat bersama mengarungi bahtera indahnya kehidupan di Surga-Nya. Namun dalam alam nyata tidak setiap orang mampu mempertahankan keutuhan rumah tangga. Ada sebagian orang yang terpaksa atau mesti ikhlas kehilangan atau berpisah dengan orang yang dicintainya manakala rumah tangga belum lama berjalan atau masih berada di tengah lautan cinta. Ada hal-hal tertentu yang tak mungkin bagi keduanya untuk terus dilanjutkan kebersamaan. Berpisah menjadi jalan terbaik daripada semakin tidak karuan. Walaupun sebagian ada juga yang berpisah karena takdir-Nya yaitu ada satu pihak yang meninggalkan dunia fana ini lebih dahulu dibanding yang lainnya.
Di sinilah setiap yang berumah tangga dituntut paham betul bahwa ada banyak hal yang bisa mengancam keutuhan rumah tangga selama diarungi dan dilayari. Mulai sifat, sikap, perilaku, pemahaman agama, hingga hadirnya orang ketiga. Pemahaman seperti ini akan dapat membuat kita lebih berhati-hati dalam bersikap dan berperilaku terhadap pasangan. Jangan sampai apa yang kita lakukan membuat pasangan kecewa, marah, yang pada akhirnya membuatnya menceraikan kita atau meminta cerai kepada kita.

SIFAT DAN PERILAKU
Dalam kaitan dengan hal ini, banyak sifat dan perilaku yang bisa membuat suami atau istri kecewa. Seperti sifat pemarah atau temperamental (baik suami maupun istri). Dalam hal ini kalau suami maupun istri memiliki sifat seperti itu akan bisa membuat pasangannya tak suka, dan pada akhirnya tak tahan. Sifat lain, umpamanya pencemburu berat, sangat manja, suka su’uzhan, tidak taat pada suami, suka mengungkit-ungkit masa lalu, suka bermaksiat dan lain sebagainya.
Banyak keluarga yang bisa kita jadikan ibrah dalam hal ini. Cobalah lihat keluarga yang didalamnya ada kurang pengertian, kurang percayaan, maupun kurang iman, maka keluarga tersebut akan sering gontok-gontokan. Secara khusus Allah membuat kehidupan penghuni rumah yang demikian tidak tenang dan setanlah teman mereka, yang menjadi petunjuk dan sebagai panutan. Naudzubillahi mindzalik, semoga ini tak terjadi pada keluarga kita.

BILA PEMICU DARI ISTRI
Perilaku istri seringkali pemancing bagi terjadinya perceraian. Seorang teman pernah curhat tentang istrinya bahwa seringkali ia ingin mengeluarkan kata cerai saat melihat “pembangkangan” istrinya. Ia tak kuat terus berada dalam “rongrongan” sang istri. Kadangkala sampai ia berpikir istrinya seorang pendurhaka dan orang yang membawa sial. Tentu sifat/sikap istri tersebut benar-benar telah menyakitinya. Membuatnya kecewa luar biasa. Dan perlu diketahui para wanita bahwasanya kebanyakan ikhwan (suami) lebih panjang dalam berpikir dan merasakan sesuatu. Kalau sampai ia berpikir seperti itu berarti memang istrinya yang sudah kebangetan. Secepatnya seorang istri mesti segera introspeksi diri. Jangan sampai berlarut yang pada akhirnya meledak. Sudah selayaknya setiap istri banyak introspeksi diri. Apa yang telah dilakukannya hari ini, dan apa yang telah diperbuatnya minggu ini, dan apa yang telah diperbuatnya bulan ini. Adakah yang membuat suaminya kecewa ? Hendaknya terus dicoba untuk dibangun komunikasi yang baik antar keduanya.
Istri semestinya bisa memulai untuk banyak bertanya pada suaminya, dan bersabar ketika menerima “kejujuran” suaminya. Karena kadangkala kejujuran suami membuat kita sakit hati. Namun percayalah kalau memang itu kekurangan atau sebuah salah bersegeralah kita meminta maaf kemudian memperbaikinya. Kemarahan/ kekecewaan suami biasanya mereda manakala melihat rona penyesalan yang tulus dari istri. Secara otomatis hatinya akan luluh dengan kesenduan kita karena tidak/belum memaafkannya. Tentu ini terjadi pada suami yang paham agama dan mengerti bagaimana wanita. Sepantasnyalah para istri sering merayu suaminya untuk mendapatkan ridha dan maaf atas kesalahannya.

BILA SUAMI PANGKAL MASALAHNYA
Tidak hanya istri, suamipun seringkali menjadi biang keladi dari ketidakhar-monisan keluarga. Ia yang memicu terjadinya kekecewaan istri yang sangat mendalam. Padahal istri telah berbuat semaksimal mungkin untuk membuat suaminya selalu bahagia. Dan istri butuh dihormati atas apa yang dilakukanya. Sehingga wajarlah bila pada akhirnya istri tak tahan ketika terus diperlakukan tak adil, tidak dihormati, atau tak disayangi oleh suaminya. Biasanya istri yang kecewa akan menumpahkan perasaannya dengan “membangkang” pada suaminya. Banyak membantah atau balas berperilaku serupa dengan suaminya.
Keadaan seperti ini tentu tidak baik bagi jalannya biduk rumah tangga. Oleh karena itu, selayaknya pula suamipun rajin untuk introspeksi diri. Karena bisa jadi istri membangkang karena awalnya dari kita. Sudahkah hari ini suami mengasihi istrinya, menyayanginya, bersikap lembut kepadanya, menghargainya dan membuatnya tertawa atau senang dengan kita. Seorang suami mestinya mampu membuat istri ingin selalu dekat di sampingnya. Karena hal tersebut merupakan cerminan kepuasan istri dari pada suaminya. Yakinlah ia akan semakin sayang bila kita sayangi dengan setulus hati. Sebaliknya pun demikian.
Kejelekan suami yang banyak terjadi dan menjadi pemicu ketidak-harmonisan rumah tangga adalah sikap yang sewenang-wenang terhadap istri atau tak bertanggungjawab terhadap keluarganya. Bagi seorang istri, kedua sifat tersebut cukup fatal bila dimiliki seorang suami. Bagi yang tak tahan, maka bisa dipastikan rumah tangga takkan bertahan. Wanita tak kuat dibuat terus menekan perasaan apalagi merekalah manusia yang sangat perasa. Sehingga ketika rasa tertekan dalam diri tak tertahankan, lontaran ceraipun akan terucap dari mulutnya. Lebih baik bercerai daripada harus hidup menderita dan dalam bayang-bayang suami yang bersifat egois dan temperamental.

SALING MENGERTI ( PENGERTIAN )
Namun, tentu seorang istri tidak mudah meminta cerai gara-gara kecewa dengan suaminya. Yang hendaknya dilakukan adalah mencoba untuk terus meng-komunikasikannya. Bangunlah pilar nasihat dalam keluarga. Biasakan untuk saling mengingatkan bila ada salah satu yang berbuat salah. Insya Allah kalau suami mengerti agama ia akan dengan senang hati dinasihati, apalagi dari istri tercinta demi kebaikan bersama.
Suatu keluarga yang baik akan selalu mengutamakan keharmonisan bukan sebaliknya. Disinilah baik suami maupun istri mesti selalu berkomitmen untuk terus bersama. Masalah takkan memisahkan keduanya kecuali maut yang menjemput. Apalagi cuma masalah karena dunia. Kebersamaan selamanya lebih penting dari sekedar materi dan dunia.
Mari kita bangun keluarga yang harmonis, yang bisa terus terbentuk kasih sayang dan cinta selamanya.

(Kepustakaan : Majalah Nikah Vol. 4 No. 5, Agustus 2005.)

Senin, 01 Maret 2010

Pentingnya Hidup Sederhana

PENTINGNYA HIDUP SEDERHANA

Keinginan itu biasanya tidak ada ujungnya. Hidup sederhana adalah lebih utama”.
Dengan hidup sederhana, tidak berlebihan, kita memiliki anggaran berlebih untuk ibadah, untuk meningkatkan kemampuan kita, dan untuk beramal saleh menolong sesama. Semoga Allah Yang Maha Kaya mengaruniakan kekayaan yang penuh berkah, dan melindungi kita dan tipu daya kekayaan yang menjadi fitnah.

Saudaraku, salah satu penyebab maraknya korupsi di negeri kita adalah kegemaran sebagian orang terhadap kemewahan dan menggejalanya pola hidup konsumtif. Memang, tantangan untuk tampil lebih konsumtif sangat terbuka disekitar kita. Tayangan televisi sering membuat standar hidup melampaui kemampuan yang kita miliki. Iklan-iklan tidak semuanya memberikan keinginan primer, tapi juga yang sekunder dan tertier yang tidak terlalu penting. Tidak dilarang kita memiliki, tapi apakah yang kita miliki ini tergolong kemewahan atau tidak? Itulah yang harus kita pertanyakan. Lalu apa kerugian hidup bermewah-mewah? Di zaman sekarang kemewahan bisa membawa bencana. Minimal dicurigai orang lain. Siksaan pertama dari kemewahan adalah ingin pamer, ingin diketahui orang lain. Siksaan kedua dari kemewahan adalah takut ada saingan. Pemuja kemewahan akan mudah dengkinya kepada yang punya lebih. Penyakit ketiga cemas, takut rusak, takut dicuri. Makin mahal barang yang dimiliki, kita akan semakin takut kehilangan.

Tampaknya, pola hidup sederhana harus dibudayakan kembali di masyarakat. Tak terkecuali di keluarga kita. Kalau orang tua memberikan contoh pada anak-anaknya tentang kesederhanaan, maka anak akan terjaga dari merasa diri lebih dari orang lain, tidak senang dengan kemewahan, dan mampu mengendalikan diri dari hidup bermewah-mewah.

Saudaraku, sederhana adalah suatu keindahan. Mengapa ? Karena seseorang yang sederhana akan mudah melepaskan diri dari kesombongan dan lebih mudah meraba penderitaan orang lain. Jadi, bagi orang yang merasa penampilannya kurang indah, perindahlah dengan kesederhanaan. Sederhana adalah buah dari kekuatan mengendalikan keinginan.
Dalam Islam, kaya itu bukan hal yang hina, bahkan dianjurkan. Perintah zakat bisa dipenuhi kalau kita punya harta, demikian pula perintah haji. Yang dilarang itu adalah berlebih-lebihan. Dalam QS At-Takaatsur, Allah SWT dengan tegas mencela orang yang berlebih-lebihan. Memang kita harus kaya tapi tidak harus bermegah-megah. Beli apa saja asal perlu, bukan karena ingin. Keinginan itu biasanya tidak ada ujungnya. Beli semua yang kita mampu beli, asal manfaat. Saya tidak mengajak untuk miskin, tapi mengajak agar kita berhati-hati dengan keinginan hidup mewah.

Satu hal yang penting, ternyata di negara manapun orang yang bersahaja itu lebih disegani, lebih dihormati daripada orang yang bergelimang kemewahan. Apalagi mewahnya tidak jelas asal-usulnya. Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat sederhana, tidak ada singgasana, tidak ada mahkota. Lalu, untuk apa Rasulullah SAW memiliki harta? Beliau menggunakan harta ersebut untuk menyebarkan risalah Islam, berdakwah, membantu fakir miskin, dan memberdayakan orang-orang yang lemah.

Dari apa yang dicontohkan Rasulullah SAW, kita harus kaya dan harus mendistribusikan kekayaan tersebut pada sebanyak-banyak orang, minimal untuk orang terdekat. Maka, bila kita memiliki uang dan kebutuhan keluarga telah terpenuhi, bersihkan dari hak orang lain dengan berzakat. Kalau masih ada lebih, maka siapkan untuk orang tua, mertua, sanak saudara dan lain, dst. Kakak-adik, keponakan, juga harus kita pikirkan. Kekayaan kita harus dapat dinikmati banyak orang.

Semoga dengan hidup sederhana; tidak berlebihan, kita memiliki anggaran berlebih untuk ibadah, untuk meningkatkan kemampuan kita dan untuk beramal saleh menolong sesama. Amin.

Jumat, 26 Februari 2010

MENYEMAI TALI UKHUWAH

Bapak/Ibu/Kakak/Adik/Sdr/i, betapa besar nilai sebuah jalinan persaudaraan. Karenanya, memperkokoh pilar-pilar ukhuwah Islamiyah merupakan salah satu tugas penting bagi kita. Lalu, bagaimanakah agar ruh ukhuwah tetap kokoh ?
Rahasianya ternyata terletak pada sejauhmana kita mampu bersungguh-sungguh menata kesadaran untuk memiliki qolbu yang bening, bersih dan selamat. Karena, qolbu yang dipenuhi sifat iri, dengki, hasud dan buruk sangka, hampir dapat dipastikan akan membuat pemiliknya melakukan perbuatan-perbuatan tercela yang justru dapat merusak ukhuwah. Mengapa? sebab apabila di antara sesama Muslim saja sudah saling berburuk sangka, saling iri dan saling dengki, maka bagaimana mungkin akan tumbuh nilai-nilai persaudaraan yang indah ?
Sekali lagi saudaraku, adakah rasa persaudaraan dapat kita rasakan dari orang yang tidak memiliki kemuliaan akhlak? Tentu saja tidak! Kemuliaan akhlak tidak akan pernah berpadu dengan hati yang penuh iri, dengki, ujub, riya dan takabur. Dengan demikian, bila ada dua suku berseteru, setidaknya satu diantara mereka adalah manusia bermental rendah dan hina, karena (mungkin) merasa sukunya lebih tinggi derajat kemuliaannya. Bila dua keluarga tidak bertegur sapa, sekurang-kurangnya salah satunya telah terselimuti hawa nafsu, sehingga menganggap permusuhan adalah satu-satunya langkah yang bisa menyelesaikan masalah.
Selanjutnya, tanyakanlah kepada diri masing-masing. Adakah kita saat ini tengah merasa tidak enak hati terhadap adik, kakak atau bahkan ayah dan ibu sendiri? Adakah kita saat ini masih menyimpan kesal kepada teman sekantor karena ia lebih diperhatikan oleh atasan ?
Bila demikian halnya, bagaimana bisa terketuk hati ini ketika mendengar ada seorang muslim yang teraniaya atau ada sekelompok masyarakat Muslim yang diperangi? Bagaimana mungkin kita mampu bangkit serentak manakala hak-hak Muslim dirampas oleh kaum yang zalim ?
Nah, dari sinilah seharusnya memulai langkah untuk merenungkan dan mengkaji ulang sejauhmana kita telah memahami makna ukhuwah Islamiyah. Karena, justru dari sini pula Rasulullah SAW mengawali amanah kerasulannya. Betapa Rasul menyadari bahwa menyempurnakan akhlak pada hakekatnya adalah merubah karakter dasar manusia. Karakter akan berubah seiring munculnya kesadaran setiap orang akan jati dirinya. Maka, menumbuhkan kesadaran adalah jihad, karena kesadaran merupakan sebutir mutiara yang terkadang hilang tersapu berlapis-lapis hawa nafsu. Manakala kesadaran telah tersemai, maka jangan heran kalau Umar bin Khathab, yang pemberang adalah manusia paling pemaaf kepada musuhnya yang telah menyerah di medan perang.
Saudaraku, kekuatan ukhuwah memang hanya dapat dibangkitkan dengan kemuliaan akhlak. Oleh karena itu, tampaknya kita amat merindukan pribadi-pribadi yang menorehkan keluhuran akhlak. Pribadi-pribadi yang aneka buah pikirannya, sesederhana apapun, adalah buah pikiran yang sekuat-kuatnya dicurahkan untuk meringankan atau bahkan memecahkan masalah-masalah yang menggelayut pada dirinya sendiri maupun orang-orang disekelilingnya. Sehingga berdialog dengannya selalu membuahkan kelapangan.

Minggu, 24 Januari 2010

MEMBANGUN KASIH SAYANG DALAM KELUARGA

Para pakar meyakini penyebab sebagian besar kasus penyimpangan sosial adalah kurang harmonisnya keluarga. Munculnya kasus-kasus seperti penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, kenakalan remaja, kriminalitas, selingkuh, sampai kasus kecil semisal bolos sekolah, semula berawal dari keluarga yang bermasalah, yaitu keluarga yang gersang akan kasih sayang.
Maka, langkah yang paling strategis untuk menyelamatkan pilar terpenting ini adalah dengan menggelorakan kembali tradisi kasih sayang dalam keluarga kita.
Mengapa kasih sayang menjadi solusi kunci dari permasalahan ini ? Bagaimana kiat-kiat menyuburkan kasih sayang di rumah kita? Keluarga siapa yang bisa kita teladani dalam hal ini?
Sebuah keluarga pasti dibangun dan hanya akan langgeng dengan rasa kasih sayang. Masalahnya, sampai kapan perasaan itu dapat bertahan? Bagaimana kiat-kiat praktis dan langkah-langkah efektif menumbuhkan nilai-nilai kasih sayang di dalam keluarga kita ? Berikut ini langkah-langkahnya :
1. Mentradisikan pergaulan yang baik dalam keluarga
Dari Aisyah radhiyallah 'anha (RA) ia berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam (SAW) bersabda, "Jika Allah Azza Wa Jalla menghendaki kebaikan kepada suatu keluarga maka Ia menganugerahkan atas mereka pergaulan yang baik."
Bersikap lemah lembut dan bercanda antara suami/isteri dan anak-¬anak merupakan salah satu faktor yang bisa menebarkan iklim kebahagiaan dan akrabnya hubungan baik di tengah keluarga. Rasulullah SAW juga mencandai Aisyah RA bahkan juga kerap bercanda dengan anak-anak kecil. Inilah tampaknya yang menyebabkan anak-anak kecil amat gembira dengan kedatangan beliau dari bepergian, sebagaimana disebutkan dalam satu Hadits, "Apabila datang dari perjalanan, beliau dihamburi oleh anak-anak kecil dari keluarganya." Rasulullah SAW pun mendekap mereka.

2. Bekerjasama dalam melakukan pekerjaan rumah
Rasulullah SAW menjahit sendiri bajunya, menambal sandalnya, melayani dirinya sendiri dan melakukan pekerjaan yang biasa di dalam rumah. Demikian dikatakan oleh Aisyah RA ketika ia ditanya apa yang dikerjakan oleh Rasulullah SAW dalam rumahnya. Aisyah RA menjawab dengan apa yang dilihatnya sendiri.

3. Menghidupkan suasana belajar mengajar dalam keluarga
Mengajar adalah kewajiban yang mesti dilakukan oleh pemimpin keluarga, sebagai realisasi dari perintah Allah SWT : "Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintah¬kan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (At-Tahrim [66) : 6).
Ayat di atas merupakan dasar pengajaran dan pendidikan anggota keluarga, memerintah dengan kebaikan dan mencegah mereka dari kemungkaran. Dengan alasan sibuk serta ikatan lainnya, seseorang seringkali melalaikan kewajiban untuk mengajari keluarganya. Solusinya ia harus mengkhususkan satu hari dalam seminggu sebagai waktu untuk keluarga, bahkan mungkin juga dengan melibatkan kerabat lain untuk menyeleng¬garakan majelis ilmu di dalam rumah. Hendaknya komitmen ini dibangun dalam anggota keluarga. Termasuk dalam pengajaran keluarga adalah dengan mengikutkan mereka untuk mendengar ceramah umum yang disampaikan oleh para ulama atau penuntut ilmu yang terpercaya di bidangnya, jika hal itu memungkinkan. Hal ini untuk lebih banvak memberikan pengajaran, juga untuk variasi. Penting juga untuk membuat perpustakaan di rumah. Untuk membantu proses pengajaran bagi keluarga adalah pemberian kesempatan belajar agama dan menolong mereka untuk mentaati hukum-hukum syariat dengan membuat perpustakaan Islami di rumah, dan menganjurkan anggota keluarga untuk membacanya.
4. Menghidupkan ibadah dan syariat dalam keluarga
Ibadah yang harus dihidupkan adalah shalat sunah dan baca Al-Qur’an. Rasulullah SAW bersabda, “sebaik-baik shalat laki-laki adalah di rumahnya, kecuali shalat wajib”. Adapun shalat-shalat wajib tersebut maka wajib dilakukan di masjid, kecuali ada udzur.
Melarang anak-anak dan pembantu masuk ke dalam kamar tidur Ibu Bapak tanpa izin, terutama pada waktu-waktu istirahat (tidur), harus mulai diterapkan. Allah SWT berfirman : `Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari)..."(An-Nur [24]: 58).
Mendiskusikan persoalan-persoalan keluarga bersama anggota keluarga juga merupakan bagian dari syariat yang tidak boleh diabaikan. Firman Allah SWT: "... Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka... "(Qs. As-Syura [42]: 38).
Laki-laki yang diberi amanah kepemimpinan dalam rumah tangga adalah orang yang paling bertanggung jawab dan penentu segala keputusan. Tetapi dengan memberikan kesempatan kepada istri dan anak-anak, ini menjadi pendidikan tanggung jawab bagi mereka, di samping semua akan merasa lapang, karena pendapat mereka didengar dan dihargai.
5. Tidak menampakkan konflik keluarga di depan anak-anak
Jarang ada sebuah keluarga tanpa pernah berselisih. Bagi anak-anak yang belum berfikir dewasa, persilihan orang tua akan berpengaruh negatif Karena itu orang tua harus menjaga agar tidak menjadikan perselisihan sebagai tontonan anak-anak, dan kalau terpaksa hendaknya hal itu kita sembunyikan.
Menjaga rahasia rumah tangga dari dunia luar juga merupa¬kan hal penting. Ini agar tidak mengundang bahaya bagi rumah tangga. Rasulullah SAW bersabda, "Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain."

Tantangan
Tantangan terbesar untuk menyuburkan kasih sayang dalam keluarga datang dari iblis dan pasukannya. Menghancurkan sebuah keluarga merupakan proyek istimewa mereka. Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air kemudian ia mengirim tentara-tentaranya. Maka yang paling dekat di antara mereka dengan iblis adalah yang paling besar fitnah yang ditimbulkannya. Datang salah seorang dari mereka seraya berkata, 'Aku telah melakukan ini dan itu." Maka Iblis menjawab, "Engkau belum melakukan apa-apa." Lalu datang yang lain seraya berkata, "Tidaklah aku meninggalkan manusia hingga aku berhasil memisahkan dia dengan istrinya." Maka Iblis pun mendekatkan anak buahnya tersebut dengan dirinya clan memujinya dengan berkata, "Ya, engkaulah." (Riwayat Muslim).
Untuk menghindarkan diri dan keluarga kita dari tipu daya setan tersebut, beberapa langkah berikut ini harus kita terapkan.
Pertama, kita berlindung kepada Allah SWT dari kejahatan setan. Firman Allah SWT:"...hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk". (An-Nahl (i6]: 98).
Kedua, Ikhlas hanya kepada Allah SWT. Firman Allah SWT : "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus." (AI-Bayyinah [98]: 5).
Ketiga, Istiqamah dengan Islam. Firman Allah SWT: "Sesungguhnya orang-orang yang berkata, 'Rabb kami ialah Allah' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqamah), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu."(Fushshilat [41]: 30)
Al-Imam An-Nawawi Rahimahullah mengatakan: "Makna istiqamah adalah senantiasa di atas ketaatan kepada Allah SWT dan dia adalah pengatur semua perkara."
Keempat, Tawakkal kepada Allah SWT.
Firman Allah SWT: "...Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. "(At-Thaalaq [65]: 3).
Kelima, Menjadikan iblis dan setan sebagai musuh abadi.
"Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi. Dan jangan kalian mengikuti langkah-langkah setan, sesungguhnya dia bagi kalian adalah musuh yang nyata. Sesungguhnya dia selalu memerintah kalian untuk (melakukan) kejahatan clan kekejian dan agar kalian mengucapkan terhadap Allah apa yang tidak kalian ketahui. " (Al-Baqarah [2]: 168-169). Wallahu a'lam bish shawab.***

Minggu, 03 Januari 2010

ARISAN BUKAN SEKEDAR GAYA HIDUP

Fenomena arisan kini sudah membudaya di tengah masyarakat Indonesia. Mulai dari arisan para pejabat, arisan Ibu-ibu atau Bapak-bapak di kompleks perumahan, hingga arisan untuk suatu tujuan tertentu seperti arisan mobil, sudah akrab dengan kehidupan kita sehari-hari. Selain sebagai ajang ekspresi untuk bersilaturahmi di antara anggotanya, arisan telah menjadi gaya hidup dan sebagai sarana untuk mencapai suatu tujuan ekonomi.
Oleh sebab itu tidak jarang ajang berkumpulnya sekelompok orang yang sepakat mengumpulkan sejumlah dana untuk kemudian diundi secara bergiliran hingga seluruh anggotanya mendapat bagian, bisa dilakukan dengan berbagai motif dan tujuan tertentu. Pada umumnya arisan dilakukan atas dasar kebersamaan atau kesamaan pada hal tertentu seperti lokasi tempat tinggal, kesamaan profesi, ataupun atas dasar kesamaan kesenangan. Lebih maju lagi, arisan bisa dijalankan untuk suatu tujuan ekonomi seperti untuk membeli rumah, mobil, motor hingga untuk keperluan ibadah haji. Untuk kasus seperti ini maka seyogyanya barang-barang yang akan dibeli hendaknya berupa barang produktif atau yang nilainya akan terus meningkat, atau justru untuk membuka suatu usaha.
Lebih tinggi lagi tingkatannya, arisan bisa dijadikan sebagai ajang edukasi berinvestasi para anggota kelompok. Dana hasil kumpulan tersebut ditabung untuk diinvestasikan pada suatu produk keuangan, yang konsepnya serupa dengan konsep reksadana. Arisan juga bisa menjadi sarana pengumpulan dana (polling fund) para anggotanya untuk kemudian dijadikan modal investasi atau untuk keperluan sosial masyarakat yang mendesak, seperti untuk santunan anggota yang sakit atau meninggal dunia. Konsep ini mirip seperti yang dilakukan oleh perusahaan asuransi jiwa dan kesehatan.
Memang salah satu kelemahan dari arisan ini adalah kurangnya penghargaan terhadap unsur waktu, sehingga anggota yang mendapat kesempatan pertama maupun terakhir akan memperoleh dana yang sama besarnya, artinya tidak ada perhitungan, yang dalam kaidah ekonomi disebut ‘time is money’.
Dari berbagai karakter tersebut, benang merah yang bisa kita ambil bahwa arisan tetaplah sebuah wadah yang bebas nilai. Artinya wadah tersebut akan memberikan nilai positif apabila tujuannya positif, misalnya arisan untuk sarana berinvestasi. Arisan juga bisa berdampak negatif apabila dipakai sekedar untuk gaya hidup dan berkumpul untuk saling pamer kekayaan.
Melalui pembahasan yang saya sisipkan kali ini, saya hanya ingin memberikan gambaran kepada anggota arisan IKKW mengenai fenomena arisan yang sebenarnya bisa menjadi seperti pisau bermata dua. Saya hanya ingin memberikan arahan agar arisan bisa kita ambil manfaat positifnya bila kita mengetahui kerangka dasarnya.

Sabtu, 02 Januari 2010

PERLUKAH IKUT ARISAN >

Oleh: Safir Senduk

Dikutip dari Tabloid NOVA No. 740/XIII

Yeni, seorang karyawati swasta berusia 26 tahun, baru saja ditelepon seorang sepupunya. Ia diundang menghadiri sebuah rapat yang akan membahas tentang rencana mengadakan arisan keluarga. Dalam rapat akan dibahas kapan sebaiknya arisan diadakan, siapa saja yang boleh ikut, berapa iurannya, dan sebagainya.

Seumur-umur, Yeni belum pernah ikut arisan keluarga. Selama ini, ayah dan ibunyalah yang senantiasa mengikuti arisan keluarga, hingga acara itu vakum dalam dua atau tiga tahun terakhir. Tak pernah terpikir oleh Yeni untuk sering-sering kumpul bersama keluarganya. Ngapain? pikirnya. Tapi dalam usia yang sudah se"tua" ini, Yeni mulai berpikir untuk berubah, Sudah saatnya ia harus mulai sering berkumpul bersama kerabatnya. Jadi, Yeni pun menerima ajakan itu.

Arisan adalah kegiatan undian yang melibatkan sejumlah peserta dalam rentang waktu tertentu, yang pada akhirnya semua peserta akan kebagian undian tersebut. Contohnya seperti ini: Anda dan sembilan teman Anda mengumpulkan masing-masing Rp 200 ribu tiap bulan, atau total terkumpul Rp 2 juta tiap bulan.

Nantinya, pada tiap bulan salah satu peserta akan mendapatkan Rp 2 juta itu dengan cara diundi. Pada bulan berikutnya, undian dilanjutkan untuk peserta yang belum dapat. Tentu saja, peserta yang sudah pernah mendapat undian tetap harus menyetor Rp 200 ribu tiap bulan sampai 10 bulan, atau sampai semua peserta kebagian mendapat undian.

Dilihat dari sisi keuangan, kalau Anda mendapat undian itu pada saat-saat awal (misalnya bulan pertama dari 10 bulan yang ditentukan), maka Anda seakan mendapat pinjaman yang harus Anda kembalikan dengan mengangsur pada bulan-bulan berikutnya. Sedangkan bila Anda mendapatkannya pada bulan-bulan terakhir, Anda seperti memberikan pinjaman pada orang lain, atau seperti menabung, lalu mendapatkan pengembalian tanpa ada bunga sama sekali. Selain arisan uang, terkadang juga ada arisan yang undiannya bukan berupa uang, melainkan barang. Bisa apa saja, tergantung kesepakatan para peserta.

Dengan gambaran seperti itu, perlukah kita ikut arisan? Semua itu tergantung dari bagaimana Anda melihatnya. Kalau Anda melihatnya dari sisi pergaulan, maka acara arisan bisa Anda gunakan sebagai sarana sosialisasi, bergaul, atau kumpul secara rutin (paling tidak sebulan sekali) dengan peserta arisan lainnya.

Kalau Anda orang yang malas bersosialisasi, percayalah, ada banyak manfaat yang bisa Anda dapatkan dengan bersosialisasi, mulai dari manfaat yang negatif sampai yang positif. Yang perlu Anda ambil tentu saja yang positifnya.

Kalau Anda melihat acara arisan dari sisi yang lain, katakan saja dari sisi uang, maka "berdoa" saja supaya Anda bisa mendapatkan undian arisan tersebut pada saat-saat awal, sehingga ini sama saja dengan mendapatkan pinjaman yang bisa Anda kembalikan dengan cara mengangsur pada bulan-bulan berikutnya dan tanpa bunga. Walaupun, tentu saja, yang namanya undian, tidak bisa Anda pastikan kapan Anda akan mendapatkannya, kan?


SEJUMLAH TIPS

Bagi Anda yang sedang berpikir untuk ikut arisan atau yang sedang mengikuti arisan, di bawah ini ada sejumlah tips yang mungkin bermanfaat:

1. Walaupun Anda bisa saja mendapatkan undian arisan pada saat-saat awal, tetapi jangan pernah ikut arisan hanya karena Anda termotivasi pada hadiahnya. Ini karena banyak orang yang ikut arisan dan hanya termotivasi untuk mendapatkan hadiah pada saat-saat awal. Hadiah uang misalnya. Kalau Anda mau pinjam uang, bukan dengan cara ikut arisan dan berharap bisa mendapatkannya di saat-saat awal. Ini karena undian arisan sifatnya tidak bisa dipastikan kapan Anda akan mendapatkannya. Kalau Anda mau pinjam uang, ada banyak tempat lain yang bisa Anda datangi. Bukan dengan ikut arisan

2. Pastikan bahwa Anda memang sanggup membayar iuran arisan yang Anda ikuti. Jangan gara-gara hanya ingin bersosialisasi, lalu Anda memaksakan diri ikut arisan yang iurannya terlalu tinggi buat Anda. Bukan apa-apa, selain memberatkan keuangan, kalau beberapa bulan berikutnya Anda tidak sanggup bayar, bagaimana? Kasihan peserta lainnya, kan.

3. Jangan pernah absen dari iuran arisan walaupun Anda sudah pernah mendapatkan undiannya. Kalau Anda terpaksa tidak bisa hadir dalam sebuah acara arisan, pastikan bahwa Anda tetap menyetor uang arisannya. Jangan mentang-mentang Anda sudah pernah mendapatkan arisan, lalu Anda enak saja "kabur". Bila hal ini terjadi, Anda tidak akan lagi dipercaya oleh lingkungan Anda.

Selamat mengikuti arisan dan selamat bersosialisasi.